TURISIAN.com – Wisatawan kini tak cukup hanya diajak datang, berfoto, lalu pulang membawa cendera mata. Kementerian Pariwisata mendorong pengalaman wisata yang membuat pelancong memahami cerita.
Bahkan proses hingga filosofi di balik budaya sebuah daerah.
Sementara ity Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menyebut konsep itu sebagai experiential tourism.
Ia mencontohkan Pekalongan, Jawa Tengah, yang memiliki tradisi batik sebagai salah satu kekuatan wisatanya.
Menurut Made, batik tak semestinya berhenti sebagai produk yang dipajang atau aktivitas membatik singkat bagi wisatawan.
Sedangkan pengalaman berwisata bisa diperluas dengan memperkenalkan tahapan pembuatan batik sekaligus makna yang melekat pada setiap prosesnya.
“Saya lihat belum banyak yang menggarap wastra tourism ke Pekalongan. Harusnya inilah experiential tourism kita,” kata Made dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook 2027 di Jakarta, Kamis 24 September 2026.
Wisatawan, kata dia, semestinya tidak sekadar belajar membatik dalam waktu singkat.
Kekayaan Seni
Sementara mereka juga perlu diajak mengikuti prosesnya. Yakni, memahami setiap tahapan, mengenali filosofi, dan mengetahui arti yang terkandung di balik motif maupun pengerjaannya.
“Ketika ke sana, bukan hanya belajar batik dua menit, tapi mengetahui step-step apa dari batik. Kita harus tahu filosofinya, artinya, prosesnya dan sebagainya,” ujarnya.
Pendekatan itu, menurut Made, dapat diterapkan pada berbagai kekayaan seni dan budaya Indonesia.
Candi, misalnya, tidak harus diperlakukan hanya sebagai bangunan yang dikunjungi dan dipotret.
Ia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah, kebudayaan, dan lingkungan yang membentuknya.
Konsep tersebut juga dapat dirangkai dengan tren walking tourism. Wisata berjalan kaki bisa menjadi medium untuk mempertemukan seni dan budaya, wastra. Serta wisata bahari dalam satu pengalaman perjalanan.
“Misalnya kita bisa padukan art and culture, wastra tourism, marine tourism dengan walking tour. Ini Indonesia akan sangat menarik dan experience-nya dapat,” kata Made.
Dengan pendekatan semacam itu, wisatawan tidak hanya berpindah dari satu objek ke objek lain.
Wisata Konvensional
Mereka berinteraksi dengan budaya, menikmati alam, sekaligus mengenali lingkungan tempat sebuah tradisi tumbuh.
Perubahan perilaku wisatawan menjadi salah satu alasannya. Pengalaman yang kreatif, menarik, dan berbeda semakin dicari.
Destinasi yang menawarkan sesuatu di luar pola wisata konvensional memiliki ruang untuk memperpanjang pengalaman sekaligus menyebarkan manfaat ekonomi pariwisata ke lebih banyak tempat.
“Semakin kreatif, semakin menarik, semakin berbeda, itu yang dicari oleh wisatawan sekarang,” ujar Made.
Karena itu, Kementerian Pariwisata mendorong destinasi keluar dari pola ordinary tourism.
Produk wisata perlu dirancang agar menawarkan cerita dan pengalaman yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
“Kalau kita bisa create ke non-conventional, beyond ordinary, ini kita akan bisa menyebarkan the glory of tourism, wisata ini ke tempat-tempat lainnya,” katanya. ***





