TURISIAN.com — Gili Trawangan sedang menghadapi paradoks pariwisata. Di tengah musim kunjungan, wisatawan justru berkemas pilih Check-out.
Penyebabnya bukan erupsi gunung atau cuaca buruk, melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar, air bersih.
Sedikitnya 300 wisatawan domestik dan mancanegara dilaporkan memilih check-out lebih awal dari sejumlah akomodasi di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Mereka meninggalkan pulau wisata tersebut setelah pasokan air bersih terputus total selama beberapa hari terakhir.
Sementara itu Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB sekaligus Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan, Lalu Kusnawan, membenarkan fenomena check-out dini tersebut.
“Ya, catatan kita ada 300 orang sudah memilih check-out lebih awal keluar dari Gili Trawangan,” ujar Kusnawan saat dihubungi dari Mataram.
Menurut dia, aliran air bersih di Gili Trawangan berhenti total sejak Kamis pukul 00.00 WITA.
Gangguan itu segera menjalar ke sektor akomodasi. Hotel dan penginapan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar tamu, mulai dari mandi hingga sanitasi.
Air Kolam Renang
Sejumlah pengelola hotel bahkan harus menggunakan air kolam renang untuk mempertahankan operasional.
“Teman-teman hotel bahkan sampai kuras air kolam renang untuk memenuhi kebutuhan sanitasi karena sama sekali tidak ada pasokan air bersih,” kata Kusnawan.
Bagi kawasan yang setiap hari mengandalkan kedatangan wisatawan, krisis tersebut bukan sekadar gangguan pelayanan.
Air bersih merupakan kebutuhan paling elementer dalam industri perhotelan.
Persoalan menjadi kian ironis karena pemutusan pasokan terjadi ketika Gili Trawangan memasuki high season.
Dalam kondisi normal, jumlah wisatawan yang menyeberang ke pulau itu dapat mencapai lebih dari 3.000 orang per hari.
Pelaku usaha kemudian mencari jalan keluar sendiri. Mereka mendatangkan air bersih dari daratan Pulau Lombok menggunakan kapal. Namun solusi darurat itu bukan perkara murah.
Industri Pariwisata
Biaya operasional membengkak. Air yang berhasil dikirim pun belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh hotel dan akomodasi di Gili Trawangan.
Kusnawan mengatakan para pengusaha selama ini memenuhi kewajiban mereka kepada pemerintah.
Pajak dan retribusi daerah dibayar. Tagihan air bersih kepada perusahaan daerah juga dipenuhi.
Karena itu, pelaku usaha meminta pemerintah tidak membiarkan krisis tersebut berlarut-larut.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Pemerintah Provinsi NTB dinilai perlu segera memastikan pasokan air kembali normal.
Setidaknya, sebelum persoalan berkembang menjadi kerugian yang lebih besar bagi industri pariwisata.
Bagi pelaku usaha, persoalannya bukan semata kehilangan pendapatan karena tamu pulang lebih cepat.
Krisis air juga menyangkut reputasi destinasi. Wisatawan yang kecewa berpotensi membawa pengalaman buruk itu ke luar pulau.
Ikon Wisata
Kusnawan mengatakan para pelaku usaha bahkan tengah menyiapkan langkah lebih jauh.
Mereka berencana menyampaikan persoalan tersebut langsung kepada pemerintah pusat.
“Kami dalam waktu dekat akan bersurat ke Presiden untuk menyampaikan persoalan air bersih di Gili ini. Drafnya sudah kami siapkan dan tinggal kami kirim ke Jakarta,” ujarnya.
Gili Trawangan selama ini dijual sebagai salah satu ikon wisata NTB. Namun ketika air bersih menghilang, daya tarik pantai, laut.
Dan kehidupan malam seolah kehilangan maknanya. Wisatawan datang untuk berlibur, bukan untuk menghitung berapa lama keran hotel akan kembali mengalir. ***





