TURISIAN.com – Pulau Jeju punya modal utama sebagai destinasi wisata: alam yang indah dan reputasi sebagai tempat yang aman. Namun modal itu kini mulai tergerus.
Serangkaian kasus orang hilang yang berakhir dengan kematian membuat wisatawan di Korea Selatan mulai berpikir ulang sebelum menjejakkan kaki di pulau tersebut.
Kecemasan itu bukan sekadar percakapan di media sosial. Jumlah wisatawan domestik ke Jeju tercatat menurun pada hampir seluruh hari sepanjang 19–29 Agustus 2026. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Asosiasi Pariwisata Jeju mencatat penurunan paling tajam terjadi pada 22 dan 25 Agustus.
Sementara itu pada 22 Agustus, jumlah wisatawan domestik turun 11,8 persen. Tiga hari kemudian, angkanya merosot 13 persen.
Hanya satu hari dalam rentang tersebut yang mencatat jumlah kunjungan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagian wisatawan bahkan mengubah rencana perjalanan. Isu keamanan perlahan masuk ke pertimbangan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dipikirkan ketika orang memilih Jeju sebagai tujuan liburan.
Kepolisian Keliru
Masalahnya bukan semata jumlah orang yang hilang. Yang membuat perkara ini menjadi serius adalah bagaimana sejumlah laporan tersebut ditangani.
Empat orang yang sebelumnya dinyatakan hilang ditemukan dalam keadaan meninggal. Pada saat yang sama, muncul tudingan bahwa kepolisian keliru menutup sekitar 200 kasus orang hilang di Jeju.
Tuduhan itu mengguncang kepercayaan terhadap aparat sekaligus memukul citra pulau wisata tersebut.
Salah satu perkara yang mendapat perhatian adalah kasus perempuan berinisial JMR. Ia dilaporkan hilang pada 15 Mei 2026.
Namun laporan itu kemudian ditutup oleh petugas yang menangani perkara, disebut berinisial Bu.
Kepada keluarga JMR, Bu mengaku telah menghubungi perempuan tersebut. Menurut keterangan itu, JMR disebut tidak ingin ditemukan.
Memperkuat Jaringan Keamanan
Masalah muncul ketika polisi tidak menemukan catatan panggilan antara Bu dan JMR.
Keterangan petugas itu juga berbenturan dengan hasil pemeriksaan forensik. JMR diduga telah meninggal pada malam 12 Mei hingga dini hari 13 Mei. Beberapa hari sebelum keluarganya melaporkan kehilangan.
Bu kini ditahan atas dugaan menutup laporan orang hilang secara tidak sah. Ia membantah tuduhan tersebut.
Kasus ini membuat persoalan keamanan Jeju tidak lagi berhenti pada pertanyaan tentang kejahatan.
Ada perkara yang lebih mendasar: seberapa cepat laporan orang hilang ditangani dan seberapa serius aparat mencari mereka yang belum ditemukan.
Pemerintah Provinsi Jeju kemudian bergerak. Pemerintah daerah menggelar rapat untuk memperkuat jaringan keamanan bagi penduduk dan wisatawan.
Hotel, pengelola akomodasi, dan perusahaan penyewaan mobil akan dilibatkan agar laporan mengenai wisatawan yang bepergian sendirian dan tiba-tiba tak dapat dihubungi bisa ditangani lebih cepat.
Sistem pelaporan darurat dan informasi lokasi di sejumlah destinasi wisata utama juga akan diperluas.
Menambah Patroli
Pemerintah Jeju berencana memperpanjang penyimpanan rekaman kamera pengawas atau CCTV publik dari 30 hari menjadi sedikitnya 60 hari.
Kepolisian otonom Jeju pun menambah patroli selama sebulan. Pada siang hari, patroli ditingkatkan menjadi 20 regu dengan 40 personel. Pada malam hari, delapan regu dengan 16 personel akan berpatroli.
Langkah-langkah itu menunjukkan bahwa pemerintah Jeju memahami persoalannya bukan sekadar perkara statistik kunjungan wisatawan. Pariwisata sangat bergantung pada rasa aman.
Sekali rasa itu retak, promosi destinasi, keindahan alam, dan berbagai fasilitas wisata belum tentu cukup untuk mengembalikannya.
Jeju kini menghadapi pekerjaan yang lebih sulit daripada mendatangkan wisatawan: meyakinkan mereka bahwa pulau itu masih aman untuk dikunjungi.
Sebab bagi wisatawan, liburan bukan hanya soal pemandangan yang indah. Ada satu hal yang lebih sederhana. Dan lebih penting—yakni pulang dengan selamat. ***





