Jembatan Transfer Ngurah Rai, Memangkas Waktu Transit Penumpang

Ngurah Rai
Dua bocah menarik koper setelah tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar Bali. (Pixabay.com)

KLIKNUSAE.com – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, kini memiliki jalur khusus bagi penumpang yang berpindah penerbangan.

Jembatan transfer yang menghubungkan terminal internasional dan domestik mulai dioperasikan pada Senin, 17 Agustus 2026. Fasilitas itu ditujukan untuk memangkas waktu transit penumpang.

Mereka yang telah mengantongi boarding pass penerbangan lanjutan tak perlu lagi keluar dari gedung terminal kedatangan. Mengambil bagasi, lalu kembali masuk ke terminal keberangkatan.

“Dengan fasilitas ini, penumpang transfer yang telah memiliki boarding pass lanjutan tidak perlu keluar gedung terminal kedatangan dan kembali masuk ke terminal keberangkatan,” kata General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, dalam keterangan tertulis, Rabu, 19 Agustus 2026.

Bagasi tercatat pun tak perlu diambil oleh penumpang. Urusan itu diserahkan kepada petugas ground handling dan maskapai untuk diteruskan ke penerbangan berikutnya.

Penumpang Garuda Indonesia GA715 dari Sydney menjadi pengguna pertama jembatan tersebut. Sebanyak 16 penumpang kemudian meneruskan perjalanan menuju Cengkareng, Surabaya, dan Kulon Progo.

Pada malam hari, giliran penumpang dari terminal domestik menuju internasional yang menggunakan fasilitas itu.

Sementara itu enam penumpang Garuda Indonesia GA420 dari Cengkareng menjadi pengguna pertama jalur sebaliknya.

BACA JUGA: Bandara Husein Sastranegara Targetkan Oktober Buka Rute Internasional

Transit Tak Lagi Berlarut

Perubahan waktu tempuh cukup mencolok. Dengan jembatan transfer, perpindahan penumpang kini rata-rata memerlukan 15 menit. Bagasi membutuhkan sekitar 45 menit.

Sebelumnya, penumpang yang berpindah dari terminal internasional ke domestik harus menyediakan waktu sekitar 90 menit. Untuk bagasi, prosesnya bisa mencapai 150 menit.

Pada rute sebaliknya, dari domestik menuju internasional, waktu transfer sebelumnya rata-rata 70 menit untuk penumpang dan 120 menit untuk bagasi.

Jembatan itu bukan sekadar koridor penghubung dua terminal. Di dalamnya tersedia konter Imigrasi, Bea Cukai, Badan Karantina, serta fasilitas pemeriksaan keamanan.

Skema tersebut melayani dua arah perjalanan. Yakni, penumpang dari luar negeri yang hendak melanjutkan penerbangan domestik dan penumpang dari penerbangan domestik yang akan terbang ke luar negeri.

Penumpang dari terminal kedatangan internasional diarahkan menuju jembatan transfer melalui area arrival hall.

Jalur itu kemudian bermuara di Gate 1 terminal keberangkatan domestik.

Adapun dari terminal domestik, akses menuju jembatan berada di depan pintu keluar area kedatangan dan tersambung ke Gate 1 terminal keberangkatan internasional.

Pengelola juga memperhitungkan kebutuhan penumpang berkebutuhan khusus. Eskalator dan lift tersedia di sepanjang akses jembatan, termasuk untuk pengguna kursi roda.

Bagi Nugroho, fasilitas baru tersebut bukan akhir dari pembenahan layanan transit di Ngurah Rai.

Pengelola bandara berencana memperluas jumlah maskapai yang dapat memanfaatkan layanan transfer tersebut.

“Ke depannya, kami menargetkan untuk secara berkesinambungan menambah jumlah maskapai penerbangan yang penumpangnya dapat dilayani fasilitas ini,” ujar Nugroho.

Bali selama ini menjadi salah satu simpul perjalanan udara Indonesia. Dengan jembatan transfer, waktu yang biasanya habis di antara dua terminal dipangkas.

Bagi penumpang transit, selisih menit itu bisa berarti banyak: perjalanan yang lebih ringkas, bagasi yang lebih praktis, dan peluang lebih kecil tertinggal penerbangan lanjutan. ***

Pos terkait