Wisatawan Asing Mulai Menjelajah Seoul di Luar Jalur Utama, Memburu Wisata Belanja

Seoul
Ilustrasi para wisatawan sedang menikmati keindahan Kota Seoul, Korea Selatan. (Dok.Turisian.com)

TURISIAN.com – Seoul perlahan meninggalkan citranya sebagai kota yang hanya identik dengan pusat belanja dan istana kerajaan.

Wisatawan mancanegara kini mulai menyusuri sisi lain ibu kota Korea Selatan itu. Dari pasar tradisional, lokasi syuting drama, hingga jalur pendakian yang membelah pegunungan di pinggiran kota.

Perubahan pola perjalanan itu terekam dalam analisis terbaru Seoul AI Foundation yang dirilis pada Rabu, 22 Juli 2026.

Laporan yang dikutip The Korea Times tersebut menunjukkan arus wisatawan asing sepanjang 2025 semakin menyebar ke berbagai kawasan, tidak lagi bertumpu pada sejumlah destinasi ikonik.

Meski demikian, kawasan Myeong-dong masih mempertahankan posisinya sebagai magnet utama wisatawan asing.

Rata-rata 100.910 pelancong mancanegara berkunjung ke kawasan belanja itu setiap hari.

Di bawahnya menyusul N Seoul Tower dengan 57.370 pengunjung harian, kawasan Samseong Station dan Coex sebanyak 46.813 orang.

Kemudian, Gangnam Station 41.210 orang, serta Hongdae dengan rata-rata 40.213 wisatawan asing per hari.

Namun, laju pertumbuhan kunjungan justru terjadi di destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda.

Dongdaemun Design Plaza (DDP) mencatat kenaikan tertinggi, yakni 12,1 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Hongdae dan Naksan Park sama-sama tumbuh 10,5 persen, sedangkan Gwangjang Market meningkat 10,4 persen.

Mencari Pengalaman

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih beragam ketimbang sekadar berbelanja.

Dilihat dari komposisi pengunjung, N Seoul Tower menjadi destinasi dengan proporsi wisatawan asing terbesar.

Sebanyak 55,7 persen pengunjungnya berasal dari mancanegara. Myeong-dong berada di urutan berikutnya dengan 47,1 persen.

Disusul Namdaemun Market, kawasan Samseong Station dan Coex, serta Dongdaemun Design Plaza.

Laporan tersebut juga menunjukkan preferensi wisata yang berbeda berdasarkan negara asal.

Wisatawan dari Vietnam, Filipina, dan Singapura cenderung memilih destinasi bersejarah seperti Gyeongbokgung Palace dan Bukchon Hanok Village.

Sebaliknya, wisatawan asal Jepang dan China lebih banyak menghabiskan waktu di kawasan belanja seperti Myeong-dong, Namdaemun Market, dan Gwangjang Market.

Temuan itu menegaskan bahwa tidak ada lagi pola tunggal dalam perjalanan wisata ke Seoul.

Lebih Autentik

Minat wisatawan semakin tersegmentasi, mengikuti ketertarikan masing-masing terhadap budaya, sejarah, kuliner, hingga pengalaman lokal yang lebih autentik.

Perubahan itu juga terlihat dari meningkatnya popularitas K-hiking, tren mendaki gunung yang kini digemari wisatawan asing.

Di antara sejumlah jalur pendakian yang dianalisis, Gunung Bukhan menjadi destinasi paling ramai dengan rata-rata 4.015 pendaki mancanegara setiap hari.

Sementara itu, Gunung Acha mencatat pertumbuhan kunjungan tertinggi, yakni 11,8 persen, disusul Gunung Gwanak dengan kenaikan 10 persen.

Fenomena tersebut menandai pergeseran wajah pariwisata Seoul. Kota ini tak lagi dipandang semata sebagai surga belanja atau pusat budaya populer Korea.

Melainkan sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman lebih lengkap. Memadukan kehidupan urban, warisan budaya, pasar rakyat, hingga wisata alam dalam satu perjalanan.

Pos terkait