TURISIAN.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya menetapkan pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.
CFD itu sendiri mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026. Kepastian itu disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung setelah sejumlah pekerjaan penataan kawasan dinilai hampir rampung.
“Baik di Sudirman–Thamrin maupun di Rasuna Said, pelaksanaan Car Free Day akan efektif dimulai 1 Juni,” kata Pramono usai meresmikan area klenteng Tian Fu Gong di kawasan PIK, Jakarta Utara, Minggu 17 Mei 2026.
Namun, berbeda dengan koridor Sudirman–Thamrin yang sudah lama menjadi pusat aktivitas CFD ibu kota. Kawasan Rasuna Said masih menyisakan pekerjaan rumah.
Pemerintah daerah masih mengebut penyelesaian jalur pedestrian, penghijauan, hingga penataan ruang publik agar kawasan tersebut siap digunakan warga.
Pramono mengatakan pemerintah sengaja menunda pelaksanaan hingga awal Juni demi memastikan seluruh fasilitas penunjang benar-benar selesai.
Sementara itu penataan trotoar dan penanaman pohon disebut menjadi bagian penting dari upaya mengubah wajah kawasan bisnis itu agar lebih ramah pejalan kaki.
Rumah Ibadah
Menurut dia, CFD di Rasuna Said juga akan memiliki pola berbeda dibandingkan Sudirman–Thamrin.
Jika CFD di pusat kota berlangsung mulai pukul 05.30 hingga 10.00 WIB, maka di Rasuna Said kegiatan hanya digelar sampai pukul 09.00 WIB.
Pembatasan waktu itu mempertimbangkan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan. Terutama keberadaan sejumlah rumah ibadah yang mulai digunakan pada pagi menjelang siang.
Pemerintah ingin pelaksanaan CFD tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas warga lainnya.
Perluasan kawasan CFD ini menjadi bagian dari agenda Pemprov DKI Jakarta memperbanyak ruang publik terbuka di tengah padatnya kawasan perkotaan.
Selain mendorong warga berolahraga dan berjalan kaki, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi pada akhir pekan.
Di sisi lain, penataan Rasuna Said diproyeksikan bukan sekadar mempercantik koridor bisnis utama Jakarta.
Pemerintah berharap kawasan itu perlahan berubah menjadi ruang publik yang lebih hijau, nyaman, dan manusiawi. Tidak hanya dipenuhi gedung perkantoran dan lalu lintas kendaraan. ***





