Gua Sunyaragi Bersolek, Topeng Cirebon Mengundang Dunia

Tari Topeng
Seorang penari wanita menunjukan topeng. (Dok.Pixabay)

TURISIAN.com –  Topeng Cirebon akan dipasang di panggung yang lebih besar. Bukan sekadar sebagai benda seni atau pelengkap pertunjukan tradisional.

Melainkan sebagai pintu masuk untuk mempertemukan kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon bersama Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon menyiapkan Cirebon Mask Festival (CMF) 2026.

Festival itu akan berlangsung pada 15–16 November 2026 di Taman Sari Gua Sunyaragi. Penyelenggara membidik sedikitnya 10 ribu pengunjung selama dua hari.

Ambisinya tidak kecil: menjadikan topeng sebagai identitas budaya yang mampu menembus jejaring internasional.

Untuk itu, panitia menggandeng International Mask Festival (IMF) Solo. Tiga negara telah memastikan kehadirannya, yakni Korea Selatan, Malaysia, dan Myanmar.

Beberapa negara lain masih dalam tahap penjajakan.

“Ini tiga negara yang sudah fix, dan ada beberapa negara yang masih dikonfirmasi untuk dihadirkan, yang kerja sama dengan IMF,” kata Ketua Panitia CMF 2026 Imam Reza Hakiki, Selasa 15 September 2026.

Ruang Pertukaran Budaya

Dijelaskan Kiki Reza–sapaan akrab Owner Grand Tryas hotel ini, para delegasi akan membawa kesenian topeng dari negara masing-masing ke Panggung Budaya Gua Sunyaragi.

Pertunjukan itu diharapkan menjadi ruang pertukaran budaya sekaligus memperkenalkan seni topeng Cirebon dalam pergaulan kebudayaan internasional.

Namun CMF tak ingin sekadar menjadi parade kesenian.

Panitia mengajak sanggar-sanggar tari di Cirebon. Termasuk Sekar Pandan, serta sinden, nayaga, penari, pengrajin topeng, penjahit kostum.

Termasuk, pengrajin sobrah, budayawan, sejarawan, hingga maestro topeng. Semua unsur itu dirangkai menjadi satu ekosistem.

“Jadi ini akan menjadi ekosistem topeng terbesar di Cirebon sebagai bentuk aktivasi budaya adanya topeng di Cirebon itu,” ujar Kiki, yang juga Ketua PHRI Kota Cirebon.

Festival juga menyediakan pasar seni dan kuliner. Konsepnya mengambil inspirasi dari pasar seni di Institut Teknologi Bandung dan sejumlah kota besar.

Dialog Budaya

Sekitar 70 persen area akan diisi produk seni dan kerajinan seperti topeng, merchandise, keris, serta produk kreatif lainnya. Sisanya untuk kuliner.

Makanan tradisional mendapat porsi khusus. Sekitar 60 persen kuliner yang ditampilkan ditargetkan memiliki nilai budaya dan tradisional.

Sementara itu jajanan pasar dan makanan lawas menjadi bagian dari konsep tersebut.

Dengan demikian, pengunjung tidak hanya datang untuk menonton tari topeng.

Mereka dapat membeli karya seni, mencicipi makanan tradisional, mengikuti lokakarya, dan berinteraksi dengan pelaku budaya.

Agenda lain adalah Dialog Budaya yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Sejumlah maestro topeng Cirebon akan hadir. Sekitar 100 peserta dari Bandung, terutama mahasiswa, juga direncanakan mengikuti forum tersebut.

Ada pula workshop kuliner, batik, dan topeng.

PHRI Kota Cirebon memasukkan agenda bisnis ke dalam festival. Table Top akan mempertemukan pelaku hotel, restoran, pariwisata, dan biro perjalanan.

Forum itu diharapkan membuka kerja sama baru sekaligus memperluas pasar industri hospitality Cirebon.

Rangkaian acara ditutup dengan gala dinner. Nuansanya tetap tradisional, dengan sentuhan suasana kerajaan masa lalu.

Perjalanan Wisata

“Konsepnya masih sama dengan konsep nuansa tradisional dan membawa nuansa kerajaan pada zaman dahulu,” kata Kiki.

Sementara panitia menargetkan 10 ribu pengunjung selama dua hari. Jumlah itu diharapkan bukan sekadar angka statistik.

Melainkan awal dari terbentuknya pasar baru bagi seni, kuliner, kerajinan, hotel, restoran, dan perjalanan wisata di Cirebon.

Persiapan panitia kini mencapai sekitar 95 persen. Setelah struktur kepanitiaan rampung, setiap bidang akan bergerak menyusun kebutuhan teknis. Persoalan berikutnya adalah pembiayaan.

Rundown acara belum sepenuhnya final karena masih bergantung pada anggaran.

Sedangkan panitia saat ini juga sedang memburu sponsor untuk memastikan seluruh gagasan festival dapat diwujudkan.

“Ini sebenarnya masih draft, susunan acara dan rundown masih bergantung pada budget. Setelah panitia terbentuk, salah satu yang paling penting adalah mencari sponsor,” ujar Kiki.

Delegasi Internasional

Festival ini dirancang tanpa tiket masuk. Konsekuensinya, pembiayaan menjadi pekerjaan penting bagi panitia.

Dukungan sponsor dibutuhkan agar festival tetap gratis bagi masyarakat sekaligus mampu mempertahankan skala acaranya.

Sementara di balik itu ada sasaran yang lebih panjang, Gua Sunyaragi.

Kawasan bersejarah tersebut hendak diuji sebagai panggung kebudayaan berskala besar.

Jika CMF berhasil mendatangkan ribuan orang dan delegasi internasional.

Festival ini dapat menjadi bukti bahwa Gua Sunyaragi bukan sekadar situs yang dikunjungi untuk melihat peninggalan masa lalu.

Ia bisa menjadi ruang hidup bagi kebudayaan.

Dan dari balik wajah-wajah topeng itu, Cirebon sedang mencoba menjual sesuatu yang lebih besar: identitas. ***

Pos terkait