Kisah Dokter Forensik Sumy Hastry Mengungkap Rahasia Kematian di Film Autopsy

Sumy Hastry
Sosok dr Sumy Hastry Purwanti aktor sentral di film Autopsy: Dead Body Can Talk. (instagram/@hastry_forensik)

TURISIAN.com – Bagi dokter forensik Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, tubuh orang yang telah meninggal bukan sekadar jasad.

Ada jejak yang tertinggal di sana. Luka, perubahan pada organ, hingga tanda-tanda yang tak kasatmata dapat menjadi petunjuk untuk mengungkap sebuah kematian.

Kisah itu kini dibawa ke layar lebar melalui film Autopsy: Dead Body Can Talk. Rumah produksi Karya Kreatif Utama mengangkat perjalanan Sumy Hastry. Dokter forensik Polri yang dikenal dalam penyidikan berbasis ilmiah.

Sutradara Ozan Ruz tidak ingin film ini berhenti sebagai cerita tentang autopsi dan penyelidikan kematian.

Ia menyisipkan satu gagasan yang lebih sederhana, sekaligus lebih sulit dilakukan: empati.

Menurut Ozan, empati bukan sekadar kemampuan melihat atau merasakan penderitaan orang lain.

Empati menuntut seseorang berhenti sejenak, lalu melakukan sesuatu bagi mereka yang membutuhkan.

“Yang dilakukan Dokter Hastry adalah memberikan hati nurani kepada jenazah yang tidak bisa lagi bicara,” kata Ozan seusai gala premier Autopsy: Dead Body Can Talk di Jakarta, Selasa 1 September 2026.

Gagasan Tentang Empati

Sementara itu bagi seorang dokter forensik, tubuh adalah bagian dari perkara. Dari sana fakta dicari, sebab kematian ditelusuri, dan bukti dikumpulkan.

Jenazah memang tidak dapat memberikan kesaksian. Tapi tubuh meninggalkan tanda-tanda yang bisa dibaca melalui ilmu pengetahuan.

Ozan berharap penonton tidak hanya membawa pulang cerita tentang Hastry setelah film selesai diputar. Ia ingin gagasan tentang empati ikut terbawa ke kehidupan sehari-hari.

“Sedikit pertolongan yang diberikan kepada yang membutuhkan itu sangat berarti,” ujarnya.

Hastry, yang juga menjadi eksekutif produser film tersebut, memiliki harapan lain. Ia ingin film ini membuat masyarakat memahami bahwa ilmu forensik punya posisi penting dalam mengungkap perkara.

Tugas Kepolisian

Sedangkan pendekatan ilmiah, kata dia, membantu penyidik memastikan sebuah kasus dapat dijelaskan berdasarkan bukti.

Dengan begitu, perkara tidak hanya terang secara hukum, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Dengan selesai menonton film, tahu, oh, inilah peran forensik yang penting sekali,” ujar Hastry.

Menurut dia, kerja dokter forensik pada akhirnya membantu tugas kepolisian dan penyidik di berbagai daerah.

Sementara temuan-temuan ilmiah dapat menjadi dasar untuk menjelaskan sebuah kasus kepada hukum sekaligus kepada masyarakat.

Film ini menampilkan Hastry melalui karakter yang diperankan Masayu Anastasia.

Produser Medis

Ia digambarkan sebagai dokter yang menjadikan sains dan fakta sebagai pegangan dalam menerjemahkan jejak-jejak kematian.

Namun Hastry dalam film tidak hanya berhadapan dengan angka, hasil pemeriksaan, atau prosedur medis. Ada firasat, rasa iba, dan petunjuk yang terkadang sulit diterangkan dengan logika.

Di sanalah Autopsy: Dead Body Can Talk mencoba menemukan cerita. Yakni, di antara meja autopsi dan ruang penyidikan, ada manusia yang bekerja untuk mereka yang sudah tidak mampu lagi menyampaikan kisahnya sendiri.

Film yang juga dibintangi Samuel Rizal, Teuku Rifnu Wikana, dan Ryuka Bunga ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 3 September 2026.

Pos terkait