Krisis Timur Tengah Picu Harga Avtur Naik, Pemerintah Genjot Insentif Pariwisata

Timur Tengah
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menunjukan gratfik pekerja sektor pariwisata saat bertemu dengan Menteri Tenagakerja, baru -baru ini. (Foro: IST)

TURISIAN.com – Kenaikan harga avtur mulai membayangi industri pariwisata nasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu krisis energi membuat ongkos penerbangan terancam melonjak.

Pemerintah pun bergerak mencari celah agar sektor wisata tidak kehilangan napas.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah insentif untuk menahan dampak kenaikan biaya perjalanan.

Salah satunya melalui diskon tiket pesawat kelas ekonomi dengan skema Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah.

“Tentu krisis energi ini berdampak pada meningkatnya harga avtur,” kata Widiyanti usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata di Jakarta, Rabu, 21 Mei 2026.

Tak hanya itu. Pemerintah juga menghapus bea masuk impor suku cadang pesawat menjadi nol persen.

Kebijakan ini diharapkan bisa meringankan beban industri penerbangan yang kini terjepit kenaikan biaya operasional.

Bagi pemerintah, menjaga harga tiket tetap terjangkau menjadi penting. Sebab, gejolak global berpotensi menekan mobilitas wisatawan.

“Kita harus siasati bagaimana mengisi kekurangan akibat krisis dari Timur Tengah,” ujar Widiyanti.

Namun Kementerian Pariwisata tampaknya tak hanya mengandalkan wisata massal. Mereka mulai membidik wisatawan berkualitas.

Kenaikan biaya perjalanan

Pelancong yang tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan biaya perjalanan dan lebih mencari pengalaman bermakna.

Menurut Widiyanti, wisatawan jenis ini tidak sekadar mengejar panorama pantai atau pegunungan.

Mereka ingin berinteraksi dengan komunitas lokal dan merasakan langsung kehidupan masyarakat setempat.

Di titik itu, keramahan warga Indonesia dianggap menjadi modal utama.

“Indonesia sangat terkenal karena masyarakatnya ramah,” kata dia.

Di tengah tekanan ekonomi global, pemerintah justru melihat peluang lain.

Sementara itu, pelaksana Tugas Deputi Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizki Handayani Mustafa menilai penguatan dolar Amerika Serikat bisa membuat Indonesia lebih kompetitif dibanding negara lain.

Logikanya sederhana. Pelemahan rupiah memang membuat biaya impor dan operasional meningkat.

Namun di mata wisatawan asing, Indonesia menjadi destinasi yang lebih terjangkau.

“Kita mempunyai affordability yang lebih kuat dibandingkan negara lain,” ujar Rizki.

Meski begitu, ia mengingatkan kenaikan harga avtur tetap harus diwaspadai.

Sebab, cepat atau lambat, lonjakan ongkos energi akan merembet ke harga perjalanan wisata.

Pemerintah kini berpacu menjaga keseimbangan. Menahan biaya agar tak melambung, sembari memastikan industri pariwisata tetap menarik di tengah ketidakpastian global. ***

Pos terkait