TURISIAN.com – Panitia pelaksana Indonesia Open 2026 BWF World Tour Super 1000 tampaknya tak ingin tribun hanya diisi gemuruh, tapi juga harapan.
Harga tiket dibuka dari Rp40 ribu untuk hari pembuka. Angka yang sengaja dipilih agar pintu Istora Gelora Bung Karno tak terasa jauh bagi publik. Penjualan dimulai 5 Mei 2026.
Ketua Panitia Achmad Budiharto menyebut skema harga tahun ini sebagai upaya “membumikan” turnamen elite.
“Kami ingin tiket ini bersahabat dengan kantong,” ujarnya, Selasa, 14 April 2026 di Jakarta.
Kalimat yang terdengar sederhana, tapi menyimpan ambisi yakni mengembalikan bulu tangkis sebagai pesta bersama, bukan sekadar tontonan berjarak.
Pada dua hari pertama, 2–3 Juni, harga tiket bergerak dari Rp40 ribu untuk kategori 3 (pre-sale) hingga Rp150 ribu untuk kategori 1 (normal).
Memasuki babak 16 besar pada 4 Juni, tarif naik menjadi Rp80 ribu hingga Rp350 ribu.
Di fase yang lebih menentukan—perempat final, semifinal, hingga final—harga merangkak dari Rp120 ribu sampai Rp850 ribu.
Sementara itu, panitia juga menawarkan paket terusan: enam hari penuh seharga Rp675 ribu hingga Rp2,4 juta. Serta paket tiga hari terakhir mulai Rp575 ribu hingga Rp1,9 juta.
Opsi pre-sale dan reguler disiapkan, memberi ruang bagi penonton untuk memilih waktu dan harga.
Namun, yang dijanjikan bukan sekadar pertandingan. Tahun ini, penyelenggara menggandeng Polytron untuk menghadirkan konsep interaktif berbasis teknologi.
Instalasi visual disiapkan, interaksi penonton diperluas, jarak antara atlet dan publik dipersempit.
“Kami ingin menghadirkan suasana seperti pesta rakyat bulu tangkis, tetapi dengan level yang berbeda,” kata Budiharto.
Di atas kertas, ini soal harga tiket. Di lapangan, ini tentang bagaimana olahraga kembali menjadi milik banyak orang riuh, dekat, dan hidup. ***





