TURISIAN.com – Kedutaan Besar Iran melalui Konsuler Kebudayaan Iran, Dr Yahya Jahan Giri menyampaikan apresiasi atas peluncuran buku “Terheran di Iran–Terbius di Turki”.
Dalam sambutannya, Jahan Giri menegaskan pentingnya pemahaman sejarah dan budaya antarnegara sebagai fondasi hubungan yang lebih sehat di tengah arus informasi global.
Menurut dia, pemahaman lintas budaya diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh pemberitaan media massa yang kerap sarat kepentingan politik.
Ia menyebut buku karya perjalanan–yang diluncurkan pada Sabtu 11 April 2026 di Cinere, Kota Depok, Jawa Barat tersebut sebagai “jembatan diplomasi budaya”.

Dimana, mampu membuka perspektif masyarakat Indonesia terhadap Iran secara lebih utuh dan manusiawi.
“Melalui buku ini, publik Indonesia dapat melihat Iran tidak hanya dari narasi media. Tetapi dari pengalaman langsung yang lebih jujur dan mendalam,” ujarnya.
Jahan Giri juga menyoroti kebijakan pemerintah Iran yang sejak Februari 2024 memberikan fasilitas bebas visa bagi warga negara Asia.
Kebijakan ini, menurutnya, merupakan bagian dari upaya membuka diri dan mempererat hubungan antarbangsa, termasuk dengan Indonesia.
Sebagai bentuk dukungan konkret, ia menyatakan komitmen untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Farsi.
Dengan demikian, masyarakat Iran dapat memahami bagaimana budaya mereka dipandang oleh warga asing. Sekaligus memperluas dialog dua arah yang konstruktif.

Komunitas Sepeda
Acara peluncuran ini dihadiri sekitar 65 pengunjung dari beragam latar belakang. Mulai dari komunitas sepeda, pemerhati buku, hingga kalangan jurnalis.
Kehadiran lintas komunitas tersebut mempertegas posisi buku ini sebagai karya yang tidak hanya berbicara tentang perjalanan, tetapi juga tentang pertukaran budaya.
Dalam sesi diskusi, Ronny P Yuliantoro selaku Duta Besar Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan periode 2020-2025 mengulas pengalaman Iran dalam menghadapi pandemi Covid-19.
Termasuk upaya negara tersebut mengembangkan vaksin secara mandiri di tengah tekanan blokade ekonomi.
Ia juga menyinggung potensi kerja sama teknologi kesehatan, khususnya pengembangan bedah robotik bersama Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung.
Ronny mengapresiasi buku tersebut karena menghadirkan pengalaman bersepeda yang autentik.
Interaksi langsung antara pesepeda dengan masyarakat lokal, serta deskripsi lanskap Iran. Mulai dari gurun hingga pegunungan, dinilai memberikan gambaran yang jarang tersentuh narasi arus utama.

Tertarik Berkunjung ke Iran
Sementara itu, pengulas lain, Adrian Rusmana, dosen Institut Manajemen Prasetiya Mulya sekaligus penggemar sepeda jarak jauh, mengaku semakin tertarik mengunjungi Iran setelah membaca buku tersebut.
Ia menilai negara itu memiliki kemajuan yang kerap tertutup oleh framing media.
“Buku ini membuka sudut pandang baru. Saya jadi ingin melihat langsung kekayaan sejarah dan keramahan masyarakat Iran,” katanya.
Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan simbolis dari penulis kepada Konsuler Kebudayaan Iran, serta dari para peturing kepada sejumlah tokoh, termasuk duta besar RI untuk Iran periode sebelumnya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, panitia juga menyerahkan donasi kepada Yayasan Anyo Indonesia yang dihimpun dari penjualan 100 buku pertama.
Yayasan tersebut memiliki misi meningkatkan tingkat kesembuhan anak penderita kanker di Indonesia dari 20 persen menjadi 60 persen pada 2030.
Acara yang ditutup pada pukul 14.30 WIB itu berlangsung hangat dan penuh antusiasme.
Suasana kegembiraan berlanjut dalam sesi ramah tamah antar komunitas pesepeda. Keakraban ini mencerminkan tingginya minat publik terhadap literasi perjalanan, sekaligus isu lintas budaya yang kian relevan di era global. ***





