TURISIAN.com – Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Abdul Karim, menilai geliat pariwisata Cianjur belum sepenuhnya ditopang infrastruktur memadai.
Lonjakan kunjungan wisatawan, terutama ke kawasan pantai selatan, masih diiringi keluhan klasik: jalan rusak dan minim penerangan.
Seusai Lebaran, Karim menyempatkan diri meninjau sejumlah destinasi pesisir. Ia mendapati arus pelancong mencapai ribuan orang. Namun, akses menuju lokasi justru menjadi titik lemah.
“Yang banyak dikeluhkan jalan menuju pantai masih rusak serta minim penerangan,” ujarnya, Senin 30 Maret 2026.
Padahal, di tingkat provinsi, perbaikan telah dilakukan. Ruas jalan selatan dari Kecamatan Campaka hingga perbatasan Cianjur–Bandung di Kecamatan Naringgul kini relatif mulus.
Perbaikan itu mempercepat mobilitas. Tapi, sambungan ke jalan kabupaten—yang menjadi akses akhir menuju destinasi justru tertinggal.
Masalah tak berhenti pada jalan. Fasilitas penunjang seperti tempat istirahat, penerangan jalan umum, hingga rambu lalu lintas dinilai belum memadai.
Dampaknya terasa, wisatawan enggan berlama-lama tinggal, meski hotel dan penginapan mulai tumbuh di kawasan tersebut.
Karim memandang situasi ini sebagai peluang yang belum tergarap optimal.
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Cianjur segera menyambung kerja pemerintah provinsi, terutama pada ruas jalan yang terhubung langsung dengan destinasi wisata.
Ia juga menyinggung faktor politik anggaran. Kedekatan Bupati Cianjur dengan Gubernur Jawa Barat, menurut dia, bisa menjadi pintu masuk percepatan pembangunan.
Terlebih, alokasi anggaran 2027 untuk daerah disebut akan meningkat, dengan fokus pada pembangunan infrastruktur jalan.
Bagi Karim, pembenahan akses bukan semata soal kenyamanan, melainkan strategi ekonomi.
Tanpa infrastruktur yang layak, lonjakan wisatawan hanya menjadi angka sesaat. Tanpa dampak berkelanjutan bagi masyarakat setempat. ***





