TURISIAN.com – Di tengah megahnya arsitektur kolonial Gedung Agung, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar melangkah pelan menyusuri ruang-ruang bersejarah.
Ruang yang pernah jadi saksi bisu perjalanan republik. Dalam kunjungan ke salah satu istana kepresidenan tertua itu, Irene tak sekadar melihat peninggalan sejarah.
Ia datang membawa gagasan besar, ingin menghidupkan kembali ruang warisan menjadi panggung ekonomi kreatif yang inklusif dan progresif.
“Gedung Agung bukan hanya situs sejarah, tapi juga ruang publik yang hidup,” ujar Irene dalam keterangan tertulis, Senin 7 Juli 2025.
“Tempat ini bisa menjadi panggung diplomasi budaya, pameran seni, residensi kreatif, bahkan laboratorium edukasi lintas generasi,” sambungnya.
Kunjungan itu, menurut Irene, adalah langkah awal mengaktivasi ruang publik berbasis nilai lokal dan kearifan budaya. Dimana ia menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang memberdayakan.
Diiringi percakapan hangat bersama Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana, Irene menggagas serangkaian kolaborasi.
Sementara itu kerjasama yang memungkinkan Gedung Agung bertransformasi dari simbol kekuasaan negara menjadi etalase kekayaan budaya.
Dibangun pada 1824 dan sempat menjadi kediaman Presiden Soekarno saat Yogyakarta menjadi ibu kota sementara pada 1946–1949, Gedung Agung adalah satu dari tujuh istana kepresidenan.
Sementara bangunan ini juga menyimpan denyut sejarah bangsa. Lebih dari 65 kepala negara, termasuk Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles, pernah disambut di beranda gedung ini.
Konten Edukatif
Kini, Irene membayangkan ruang-ruang itu menjadi ajang lahirnya konten edukatif berbasis museum.
Sebuah, program residensi seni, hingga diplomasi budaya yang bertumpu pada karya kreatif anak negeri.
Mendampingi kunjungan tersebut, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, turut memberikan pandangannya.
“Kita bisa menghidupkan kembali ruang-ruang bersejarah lewat pendekatan kreatif yang relevan dengan zaman,” ungkap Yovie.
Seni, musik, dan teknologi bisa menjadikan Gedung Agung lebih dari sekadar monumen masa lalu. Ia bisa menjadi simbol inspirasi lintas generasi,” kata Yovie.
Sedangkan di akhir kunjungan, rombongan menyempatkan diri menelusuri area museum.
Di sana, terpajang karya para maestro Indonesia seperti Affandi, Soedjojono, dan Basuki Abdullah. Berdampingan dengan arsip foto-foto kepresidenan yang mengabadikan fragmen-fragmen sejarah negeri.
Gedung Agung, yang pernah menjadi rumah bagi revolusi, kini bersiap membuka diri sebagai rumah baru bagi kreativitas dan masa depan. ***