Mawatu Labuan Bajo Membuka Ruang bagi UMKM dan Seniman Lokal

Mawatu Labuan Bajo
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. (Dok.Pixabay.com)

TURISIAN.com – Pertumbuhan pariwisata di Mawatu Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, tak hanya melahirkan peluang bisnis bagi investor bermodal besar.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta seniman lokal juga berupaya mengambil bagian dari geliat ekonomi di destinasi superprioritas tersebut.

Peluang itu antara lain hadir melalui Mawatu, kawasan komersial terintegrasi yang menawarkan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk dan karya mereka.

Di tengah pembangunan kawasan modern, pengelola berupaya mempertahankan identitas Flores dengan melibatkan masyarakat setempat.

Salah satu pelaku ekonomi kreatif yang bergabung adalah Mateus Sakeus.

Seniman yang telah berkarya di Labuan Bajo sejak 2015 itu membuka galeri lukis di Mawatu pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Bagi Mateus, kesempatan tersebut bukan sekadar peluang untuk menjual karya.

Ia menganggapnya sebagai jalan bagi seniman lokal untuk memperoleh ruang di tengah perkembangan bisnis pariwisata yang semakin pesat.

“Sebetulnya ini mimpi dari awal, bagaimana seniman lokal ataupun UMKM lokal itu bisa berkolaborasi dengan Mawatu. Saya bersemangat untuk bisa jualan di sini,” kata Mateus.

Membantu UMKM

Akademisi seni rupa itu menjelaskan, kerja sama yang ditawarkan pengelola menggunakan skema bagi hasil.

Sebanyak 85 persen hasil penjualan menjadi hak pelaku usaha, sedangkan 15 persen diberikan kepada pengelola, di luar pajak pertambahan nilai (PPN).

Menurut Mateus, skema tersebut cukup membantu UMKM yang masih berada dalam tahap pertumbuhan.

Pelaku usaha dapat memanfaatkan ruang komersial tanpa harus menanggung seluruh beban pengelolaan secara mandiri.

“Menurut saya, karena kita kan UMKM yang masih bertumbuh, saya rasa ini solusi terbaik untuk UMKM-UMKM lokal,” ujarnya.

BACA JUGA: Arus Wisatawan Asia Kini Memburu Indonesia, Dari Bromo hingga Labuan Bajo

Galeri Mateus menawarkan lukisan berukuran kecil di atas kanvas dan karya pada media kertas.

Ia juga berencana menggelar live painting untuk memperkenalkan proses kreatif kepada pengunjung.

Karya-karyanya banyak merekam persoalan sosial, kebudayaan, feminitas, serta alam dan wajah-wajah masyarakat Manggarai.

Lanskap dan kehidupan Labuan Bajo turut menjadi sumber inspirasinya.

Menjaga Identitas Flores

Komitmen untuk melibatkan pelaku usaha lokal disampaikan manajemen Mawatu dalam acara soft opening kawasan tersebut pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Head of Business Mawatu, Jonathan Budiman, mengatakan pembangunan kawasan komersial modern tidak seharusnya menghapus karakter lokal.

Menurut dia, identitas Flores perlu menjadi bagian dari perkembangan bisnis di Labuan Bajo.

“UMKM itu tentu saja sudah harus ada, karena kita enggak mau mengembangkan bisnis tapi hilang identitas Floresnya. Bahkan internal kita di dalam Mawatu sendiri itu rata-rata dari Flores,” kata Jonathan.

Saat ini, hampir 50 merek lokal dan nasional telah mengisi kawasan Mawatu. Mereka menempati berbagai ruang usaha.

Mulai dari stan, rumah toko, hingga shop house. Bidang usahanya mencakup kuliner, oleh-oleh, dan kebutuhan gaya hidup.

Manajemen juga menyediakan ruang bagi pelaku industri kreatif untuk bertemu dan berkolaborasi.

Harapannya, perputaran ekonomi yang tercipta di kawasan tersebut tidak hanya menguntungkan pengelola dan merek berskala nasional.

Future city center

Tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat Flores.

Mawatu mengusung visi sebagai future city center atau pusat kota masa depan di Labuan Bajo.

Kawasan ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan bisnis dan pariwisata dalam satu lokasi.

Jonathan menilai perkembangan sektor pariwisata Labuan Bajo belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan infrastruktur dan fasilitas komersial yang memadai.

“Jadi Bajo ini kan ekonominya berkembang cepat dari segi tourism. Cuma infrastruktur, komersial dan semuanya masih terbatas. Makanya Mawatu itu ada semuanya, jadi kayak centralize. Finance, commercial, yang enggak perlu nyebrang-nyebrang, cukup di dalam kawasan,” ujarnya.

Untuk mendukung konsep tersebut, Mawatu melengkapi kawasannya dengan fasilitas hotel, dermaga atau jetty, serta akses ke pantai. Kawasan ini juga menghadirkan jaringan bioskop XXI, yang disebut sebagai jaringan bioskop pertama di Pulau Flores.

Kehadiran fasilitas modern dan pelibatan UMKM menjadi dua sisi yang ingin dipadukan Mawatu.

Namun, sejauh mana pertumbuhan kawasan komersial itu mampu meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal akan ditentukan oleh keberlanjutan kolaborasi.

Termasuk,  peluang pasar yang benar-benar mereka peroleh. ***

Pos terkait