GIPI Ungkap Enam Tantangan Industri Pariwisata untuk Mempercepat Pemulihan, dari Biaya Penerbangan hingga Sentimen Negatif Konser

Mempercepat Pemulihan
Ketua Umum GIPI Haryadi Sukamdani memberikan cinderamata kepada Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana usai Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GIPI bertema “Solidaritas GIPI Mengembangkan Pariwisata Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia” di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu 14 Oktober 2026. (Dok.Kemenpar)

TURISIAN.com – Industri pariwisata Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mempercepat pemulihan dan menjaga pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global.

Persoalan tersebut mencakup keterbatasan anggaran promosi, tingginya biaya operasional, hingga sentimen negatif terhadap penyelenggaraan konser dan kegiatan hiburan internasional.

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani, mengidentifikasi enam persoalan utama yang perlu segera mendapat perhatian bersama.

Keenam persoalan itu meliputi belum optimalnya promosi pariwisata akibat keterbatasan anggaran negara. Tingginya biaya operasional penerbangan, kenaikan biaya tenaga kerja.

Kemudian regulasi yang memicu biaya tinggi, dukungan pembiayaan perbankan yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri. Serta sentimen negatif terhadap penyelenggaraan kegiatan pariwisata dan hiburan.

Menurut Hariyadi, berbagai persoalan tersebut membutuhkan penyelesaian secara bersama agar industri pariwisata nasional mampu tumbuh secara sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Ia menilai, penguatan sektor pariwisata tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Pemerintah dan pelaku industri juga perlu memastikan iklim usaha tetap kondusif, biaya operasional terkendali. Serta dukungan pembiayaan dan promosi berjalan lebih optimal.

Sentimen Negatif Dinilai Mengganggu Ekosistem Pariwisata

Hariyadi juga menyoroti pentingnya menjaga iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan berskala internasional sehingga bisa mempercepat pemulihan.

Termasuk konser musik dan berbagai ajang hiburan yang berpotensi mendatangkan wisatawan.

Menurut dia, kegiatan semacam itu tidak hanya memberikan dampak kepada penyelenggara acara.

Tetapi juga menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari perhotelan, transportasi, restoran, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Karena itu, ia menyayangkan munculnya desakan dari sejumlah tokoh masyarakat agar berbagai konser dan ajang hiburan internasional yang telah direncanakan dibatalkan.

“GIPI menyayangkan timbulnya sentimen negatif dari sejumlah tokoh masyarakat yang mendesak pembatalan berbagai ajang hiburan. Termasuk,  konser internasional yang direncanakan,” kata Haryadi.

“Langkah ini berpotensi merugikan masyarakat luas dan mengganggu ekosistem pariwisata yang tengah bangkit,” sambungnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GIPI bertema “Solidaritas GIPI Mengembangkan Pariwisata Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia” di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu 14 Oktober 2026.

Bagi industri pariwisata, penyelenggaraan acara internasional merupakan salah satu peluang untuk memperluas pasar.

Bahkan, bisa meningkatkan pergerakan wisatawan, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di daerah tujuan.

Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi, GIPI menilai sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pemulihan.

Penyelesaian persoalan struktural dan penciptaan iklim usaha yang kondusif diharapkan dapat memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar global. ***

Pos terkait