TURISIAN.com — Deru mesin MotoGP di Sirkuit Pertamina Mandalika tak hanya memacu adrenalin penonton. Tapi mampu menggerakkan UMKM.
Di luar lintasan, ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut menikmati perputaran ekonomi dari ajang balap internasional itu.
Selama tiga hari penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, omzet mereka mencapai Rp2,94 miliar.
Sementara itu Direktur Komersial dan Marketing InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Febrina Mediana mengatakan sebanyak 769 UMKM tercatat berpartisipasi dalam ajang tersebut.
Transaksi tertinggi terjadi pada hari ketiga, mencapai Rp1,63 miliar atau 55,7 persen dari total omzet.
“Total 769 UMKM yang tercatat berpartisipasi dalam Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, dengan transaksi hari ketiga mencapai Rp1,63 miliar. Dan kuliner lokal mendominasi penjualan,” kata Febrina di Lombok Tengah, Rabu 4 November 2026
Perdagangan berlangsung di berbagai titik, baik di dalam maupun di luar kawasan sirkuit.
Aktivitas Komersial
Di area sirkuit, sebanyak 310 tenant meramaikan aktivitas komersial, terdiri atas 300 UMKM dan 10 merek nasional.
Sebanyak 180 UMKM merupakan peserta dari Dinas, 73 tenant berada di area festival, 47 tenant di grandstand, serta masing-masing lima tenant di Nusantara dan Paddock Cafe.
Partisipasi juga melibatkan 34 UMKM binaan InJourney Group dan 30 UMKM binaan Pertamina.
Pelaku usaha dari 10 kabupaten dan kota turut memasarkan produk melalui Lombok Sumbawa Festival.
Di luar sirkuit, 459 UMKM ikut berjualan. Sebanyak 189 di antaranya menempati area Bazaar Mandalika dan Mandalika Street Food Festival Vol II.
Sementara 270 UMKM lainnya tersebar di area parkir dan sejumlah titik di sekitar sirkuit.
Sedangkan dari total omzet, area Commercial Booth menyumbang Rp1,125 miliar atau 38,3 persen.
Ajang Internasional
UMKM binaan menghasilkan Rp849 juta atau 28,9 persen, UMKM Dinas Rp715 juta atau 24,3 persen, dan Paddock Area Rp251 juta atau 8,5 persen.
Produk kuliner menjadi primadona. Makanan lokal menyumbang 29,7 persen dari penjualan.
Disusul kopi 22,9 persen, minuman 20 persen, panganan 16,8 persen, dan makanan Barat 10,7 persen.
Menurut Febrina, keterlibatan UMKM dalam ajang internasional menjadi salah satu cara memperluas akses pasar.
ITDC, kata dia, akan terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha, mulai dari kualitas produk, kemampuan produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Besarnya transaksi selama MotoGP Mandalika menunjukkan bahwa ajang olahraga internasional bukan hanya panggung bagi pembalap dan tim. Namun juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,
Di balik riuh tribun dan persaingan di lintasan, ada peluang ekonomi yang ikut terbuka bagi usaha lokal. ***





