TURISIAN.com – Jakarta International Stadium (JIS) mulai menjadi incaran penyelenggara atau promotor konser berskala besar. Stadion di Jakarta Utara itu kini menghadapi prospek baru.
Yakni, bukan sekadar arena pertandingan sepak bola, melainkan panggung pertunjukan yang berpotensi mendatangkan ribuan penonton dan menggerakkan industri hiburan.
Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan, sedikitnya 15 konser besar telah mengajukan permohonan untuk digelar di JIS.
Jumlah tersebut menunjukkan meningkatnya minat penyelenggara acara terhadap stadion yang selama ini kerap disorot karena persoalan akses transportasi.
“Sudah ada 15 konser besar yang mengajukan diadakan di JIS,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Jumat.
Persoalan akses memang menjadi salah satu pekerjaan rumah JIS sejak awal beroperasi. Kapasitas stadion yang besar tidak serta-merta menjamin kemudahan mobilitas penonton.
Kemacetan dan keterbatasan pilihan transportasi sempat menjadi pertimbangan bagi penyelenggara acara.
Kini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya membenahi persoalan tersebut. Salah satu langkahnya adalah menghubungkan JIS dengan kawasan Ancol.
Integrasi ini membuka alternatif bagi penonton untuk memarkir kendaraan di kawasan wisata tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju stadion.
Akses Peron KRL
Konektivitas transportasi publik juga diperkuat melalui layanan kereta rel listrik (KRL).
Pemerintah DKI bahkan menyiapkan pembangunan satu sisi peron tambahan di kawasan JIS. Dengan begitu, akses peron KRL nantinya memiliki dua sisi.
“Problem transportasinya yang dulu menjadi handicap kemacetan, setelah dilakukan perbaikan, dihubungkan dengan Ancol. Kemudian juga KRL ada, dan sebentar lagi peron untuk KRL di JIS kita bangun satu sisi lagi menjadi dua sisi,” ujar Pramono.
Perbaikan akses tersebut menjadi modal bagi JIS untuk memperluas pasar. Konser musik berskala besar membutuhkan lebih dari sekadar stadion berkapasitas puluhan ribu orang.
Kelancaran perjalanan penonton, ketersediaan parkir, dan konektivitas angkutan umum ikut menentukan pilihan promotor.
Membidik Pendapatan dari Naming Rights
Di tengah meningkatnya minat penyelenggara konser, peluang komersial lain mulai terbuka.
Sejumlah perusahaan disebut telah mengajukan penawaran untuk memperoleh hak penamaan atau naming rights JIS.
Pramono membenarkan adanya ketertarikan tersebut. Namun, ia belum bersedia mengungkapkan nama perusahaan yang telah mengajukan penawaran.
“Sudah ada beberapa, saya tidak menyebutkan dulu ya, sudah ada beberapa yang mengajukan naming rights untuk JIS,” katanya.
Hak penamaan merupakan salah satu instrumen komersialisasi aset stadion.
Melalui skema ini, perusahaan dapat menggunakan namanya sebagai identitas stadion dalam periode dan ketentuan kerja sama tertentu.
Penyewaan Tempat
Bagi pengelola, skema tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan di luar penyewaan tempat dan penyelenggaraan acara.
Pramono berharap, bertambahnya agenda berskala besar di JIS dapat memperkuat posisi Jakarta sebagai episentrum penyelenggaraan berbagai event.
Targetnya bukan semata menjadikan stadion itu ramai oleh konser dan pertandingan.
JIS juga diharapkan menjadi bagian dari ekosistem industri hiburan dan pariwisata perkotaan yang melibatkan promotor.
Termasuk pelaku usaha, transportasi, perhotelan, hingga sektor ekonomi kreatif.
Lima belas permohonan promotor konser yang masuk menjadi sinyal awal. Tantangannya kini adalah memastikan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan stadion mampu mengimbangi besarnya minat pasar. ***





