TURISIAN.com – Perbukitan Menoreh tak hanya menawarkan panorama alam. Kawasan yang membentang melintasi beberapa daerah itu juga menjadi arena promosi pariwisata melalui olahraga lari lintas alam.
Beberapa daerah yang dilewati adalah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Ajang Biosferun 2026 yang digelar pada Minggu, 18 Oktober 2026, diikuti lebih dari 1.000 pelari.
Sejumlah peserta datang dari luar negeri, antara lain Jepang, Filipina, Jerman, Kolombia, dan Prancis.
Kehadiran pelari mancanegara menjadi peluang untuk memperkenalkan potensi wisata Menoreh melalui pendekatan sport tourism.
Peserta tak hanya berhadapan dengan tantangan fisik di lintasan. Tetapi juga berkesempatan menikmati kekayaan alam, budaya, kuliner, dan desa wisata di kawasan tersebut.
Sementara itu Direktur Pemasaran Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Harfiansa Bimantara, mengatakan jumlah peserta mancanegara tahun ini relatif menurun.
Situasi geopolitik internasional dan peringatan perjalanan atau travel warning diduga ikut memengaruhi minat mereka.
“Jadi memang karena travel warning dan sebagainya, karena kondisi geopolitik di internasional juga sedang ini,” kata Harfiansa saat ditemui dalam ajang Biosferun 2026.
Meski menghadapi tantangan tersebut, BPOB berencana memperluas pemasaran paket wisata olahraga ke pasar internasional.
Promosi akan dilakukan melalui pameran pariwisata di luar negeri, dengan mengandalkan acara olahraga sebagai pintu masuk untuk menarik wisatawan ke kawasan Borobudur dan Perbukitan Menoreh.
“Ke depannya kita akan menjual paket-paket sport tourism ini berbasis event ini di pameran-pameran pariwisata internasional untuk lebih fokus ke pasar internasional juga,” ujarnya.
Menjajaki lintasan 50 kilometer
BPOB juga membuka peluang meningkatkan tantangan bagi peserta pada penyelenggaraan berikutnya.
Salah satu opsi yang tengah dijajaki ialah menambah jarak lintasan terpanjang dari 30 kilometer menjadi 50 kilometer.
Menurut Harfiansa, rencana tersebut masih memerlukan survei untuk memastikan kelayakan lintasan.
Penambahan jarak diharapkan dapat memperluas daya tarik Biosferun bagi pelari yang mencari tantangan lebih berat.
Sedangkan Direktur BPOB Yusuf Hartanto mengatakan Biosferun tahun ini merupakan penyelenggaraan kelima.
Ajang tersebut didukung oleh tiga pemerintah daerah, yakni Purworejo, Kulon Progo, dan Magelang.
Lebih dari 1.000 peserta mengikuti tiga kategori lomba, yaitu 30 kilometer, 15 kilometer, dan 7 kilometer.
Yusuf berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kompetisi olahraga.
Kehadiran pelari dan pengunjung diharapkan mendorong pergerakan wisatawan ke berbagai destinasi di sekitar Menoreh. Sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Kami berharap dengan adanya Biosferun ini dapat membangkitkan ekonomi. Khususnya di sekitaran Bukit Menoreh. Sehingga mempunyai dampak khususnya pada kunjungan di destinasi di sekitar ekosistem Menoreh,” kata Yusuf.
Penyelenggara juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memamerkan produk lokal.
Pelibatan tersebut menjadi salah satu cara memperluas manfaat ekonomi dari penyelenggaraan acara. Sehingga peluang usaha tidak hanya dinikmati sektor pariwisata formal.
Tiga daerah merajut ekosistem wisata
Tantangan berikutnya adalah memastikan wisatawan tidak berhenti setelah mengikuti perlombaan.
Untuk itu, promosi Menoreh membutuhkan kerja sama lintas daerah agar pengunjung tertarik memperpanjang perjalanan dan mendatangi destinasi lain.
Pada bagian lain, Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi mengatakan, Biosferun menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi sarana promosi pariwisata yang melampaui batas administratif kabupaten.
Menurut dia, Purworejo, Kulon Progo, dan Magelang tidak bisa mengembangkan potensi Menoreh secara sendiri-sendiri.
Ketiga daerah perlu menyatukan langkah, mulai dari promosi destinasi hingga penyelarasan kalender kegiatan wisata.
“Tidak bisa ekosektoral masing-masing kabupaten yang bergerak masing-masing. Tetapi memang harus kita bangun bersama, kita promosikan bersama, sehingga nanti ekosistem wisata di Menoreh ini bisa berjalan,” ujar Dion.
Ia menilai kawasan Menoreh memiliki modal pariwisata yang beragam.
Selain lanskap perbukitan dan kekayaan alam, kawasan ini menyimpan potensi budaya, kuliner khas. Serta desa wisata yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan wisata.
“Karena Perbukitan Menoreh ini selain alamnya, selain nature-nya, juga ada budaya yang luar biasa di sini,” katanya.
“Kulinernya juga mantap-mantap dan desa-desa wisata ini juga hidup semuanya. Jadi ini sesuatu yang patut kita promosikan,” sambungnya.
Dion berharap Biosferun dapat menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan.
Dengan promosi terpadu dan keterlibatan pelaku usaha lokal, ajang tersebut diharapkan mampu memperkuat daya tarik Menoreh.
Sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di tiga daerah.
Biosferun pada akhirnya bukan sekadar urusan mencapai garis finis.
Lintasan lari dapat menjadi etalase untuk memperkenalkan destinasi. Sedangkan kerja sama antardaerah menjadi kunci agar kunjungan wisatawan memberi dampak yang lebih luas dan berkelanjutan. ***





