Dari Empat Perempuan, Lahir Komunitas Gowes Beragam Sepeda di Bandung

Beragam sepeda
Komunitas Pedal Puff Girls gowes bersama menyusuri jalanan Kota Bandung. (Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Pagi di Kota Bandung belum terlalu ramai ketika puluhan perempuan mulai mengayuh sepeda. Mereka datang dengan beragam sepeda.

Ada yang mengayuh  sepeda lipat, road bike, hingga sepeda harian. Tak ada target kecepatan. Yang penting, tak ada yang tertinggal.

Pemandangan itu merupakan bagian dari aktivitas Pedal Puff Girls (PPG). Sebuah komunitas pesepeda perempuan yang tumbuh dari kebiasaan sederhana empat perempuan berkeliling Kota Bandung.

Sementara itu Founder Pedal Puff Girls, Hana Shella, 29 tahun, mengatakan komunitas tersebut bermula pada 2024.

Saat itu, mereka belum berpikir untuk membangun komunitas. Bersepeda hanya menjadi kegiatan bersama empat sahabat.

“Awalnya itu bukan komunitas. Kita cuma gowes teman-teman, cuma berempat keliling-keliling kota,” kata Hana di Jalan Cendana, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Setahun kemudian, kegiatan itu berkembang. Hana dan teman-temannya melihat semakin banyak perempuan di Bandung yang tertarik bersepeda.

Konten di Sosmed

Mereka kemudian mulai membuat konten di media sosial untuk mengajak lebih banyak perempuan bergabung.

Responsnya di luar dugaan. Dari sekitar 200 pengikut, satu per satu perempuan mulai mengirim pesan langsung.

Mereka bukan hanya ingin bersepeda, tetapi juga mencari teman untuk mengayuh bersama.

“Teman-teman perempuan di Bandung mulai DM kita, ‘Kak, mau dong gowes bareng.’ Jadi kita adakan gowes bareng tiap minggu,” ujar Hana.

PPG membuka pintu bagi perempuan tanpa batasan usia maupun jenis sepeda.

Pelajar hingga ibu rumah tangga bisa ikut. Syaratnya sederhana: membawa sepeda, bukan sepeda motor.

Kini lebih dari 200 perempuan tergabung dalam grup WhatsApp PPG dan jumlahnya mendekati 300 orang. Namun, yang mengikuti gowes mingguan biasanya sekitar 50 orang.

Pesertanya lintas generasi. Ada anggota termuda yang masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Ada pula ibu rumah tangga berusia 30-an hingga 40-an tahun.

Mereka biasanya mulai mengayuh sekitar pukul 07.00. Dua jam kemudian kegiatan berakhir.

Kedai Kopi

Sepeda diparkir, obrolan berlanjut. Sebagian peserta kemudian nongkrong bersama di kedai kopi.

Sesekali PPG berkolaborasi dengan kedai kopi atau merek tertentu.

Bagi Hana, sepeda hanyalah pintu masuk. Yang lebih penting adalah rasa aman dan kebersamaan.

Sejumlah perempuan bergabung karena merasa canggung atau takut bersepeda seorang diri di jalan raya.

Pesan-pesan semacam itu kerap masuk ke akun media sosial PPG.

“Yang nge-DM kita itu alasannya, ‘Ingin join dong, Kak, karena aku malu atau takut gowes sendiri.’ Jadi ya sudah, yuk kita bareng-bareng gowes tiap minggunya,” kata Hana.

Kebersamaan itu juga berlaku ketika masalah muncul di tengah perjalanan.

Pesepeda pemula bisa saja mengalami rantai lepas atau ban bocor. Dalam situasi seperti itu, rombongan tak akan begitu saja meninggalkan anggota yang bermasalah.

Menikmati perjalanan

Hana mengatakan PPG sengaja menjaga kebiasaan tersebut. Anggota yang mengalami kendala akan didampingi sampai sepeda kembali bisa digunakan.

“Kadang perempuan itu kan tidak terlalu paham soal sepeda. Aku suka khawatir teman-teman yang ketinggalan, rantainya lepas atau bannya bocor. Jadi kita selalu memprioritaskan untuk benar-benar mendampingi teman-teman yang baru,” ujarnya.

Di jalan, karena itu, kecepatan bukan ukuran utama. PPG tidak dibangun sebagai komunitas yang mengejar siapa paling cepat sampai tujuan. Mereka justru menikmati perjalanan yang dilakukan bersama.

“Teman-teman senang ditungguin, enggak ditinggalin. Jadi penting bareng-bareng. Kerasa kebersamaannya,” tutur Hana.

Grup Komunitas

Cara itu pula yang membuat PPG berkembang dari empat teman menjadi komunitas dengan ratusan anggota beragam sepeda.

Perempuan yang ingin bergabung cukup mengikuti informasi gowes terbuka melalui media sosial. Setelah mengikuti kegiatan bersama, mereka dapat masuk ke grup komunitas.

Pedal Puff Girls hadir di Instagram melalui akun @pedalpuffgirls.

Bagi Hana, pertumbuhan komunitas tersebut menunjukkan bahwa bersepeda tak selalu tentang olahraga, jarak, atau kecepatan.

Di tengah jalanan Bandung yang semakin padat, beragam sepeda dapat menjadi medium untuk bertemu orang baru. Menikmati kota, sekaligus membangun rasa saling menjaga.

Empat perempuan yang dulu hanya berkeliling kota kini telah mengajak ratusan perempuan lain melakukan hal serupa.

Yakni, mengayuh bersama, berhenti bersama, dan—yang terpenting—tidak meninggalkan siapa pun di belakang. ***

Pos terkait