Grand Prix Bahrain di Malaysia, Pembalap F1 Dipaksa Bertarung Melawan Panas Ekstrem

Grand Prix Bahrain
Ilustrasi. Grand Prix Bahrain di Malaysia bakal menjadi debut seru lintasan yang menantang. (Instagram/@bahrain_grand_prix)

TURISIAN.com – Grand Prix Bahrain yang digelar ulang di Malaysia akhir pekan ini tak sekadar menjadi balapan pengganti. Sirkuit Sepang menghadapkan para pembalap Formula 1 pada tiga tantangan sekaligus.

Tantangan tersebut adalah  panas, hujan, dan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Balapan berlangsung pada 2–4 Oktober 2026. Bahrain dan Arab Saudi sebelumnya dicoret dari kalender Formula 1 setelah situasi keamanan di Timur Tengah memburuk pada April.

Formula 1 kemudian memindahkan jadwal Grand Prix Bahrain ke Malaysia agar seri tersebut tetap digelar.

Sepang sekaligus menjadi panggung kembalinya Formula 1 ke Malaysia setelah sembilan tahun absen.

Nama Bahrain Grand Prix tetap dipertahankan setelah melalui pembicaraan antara pemerintah kedua negara.

Tantangan pertama datang dari suhu. FIA menetapkan balapan ini berstatus Heat Hazard, menyusul prakiraan suhu udara 33–35 derajat Celsius sepanjang pekan balapan.

Pasal B1.5.1 Regulasi Formula 1 FIA mengatur status tersebut ketika indeks panas melampaui 31 derajat Celsius.

Dalam kondisi itu, tim diwajibkan memasang sistem pendingin pada mobil.

Bobot Kendaraan

FIA juga membuka opsi penggunaan cooling vest bagi pembalap. Perangkat itu tidak wajib dipakai. Namun pembalap yang memilih tidak menggunakannya harus menerima tambahan pemberat 0,5 kilogram pada mobil.

Ketentuan ini dibuat untuk menjaga kesetaraan performa karena bobot kendaraan menjadi faktor penting dalam persaingan Formula 1.

Panas bukan satu-satunya persoalan. Sepang juga menghadapi ancaman hujan selama tiga hari penyelenggaraan.

Peluang hujan diperkirakan mencapai 50 persen pada Jumat, 40 persen pada Sabtu, dan 30 persen pada Minggu ketika balapan utama berlangsung.

Di luar lintasan, kualitas udara menjadi persoalan lain. Kabut asap akibat karhutla di Indonesia masih berdampak terhadap sejumlah wilayah Malaysia.

Karakter sirkuit

Data IQAir hingga 30 September menempatkan Kuala Lumpur di posisi teratas kota dengan tingkat polusi udara terburuk.

Indeks kualitas udara atau AQI mencapai 165, sementara kualitas udara di sejumlah wilayah lain bergerak dari kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Sampai saat ini, penyelenggara belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai dampak kondisi udara tersebut terhadap pelaksanaan balapan.

Para pembalap pun menghadapi pekerjaan fisik yang tak ringan. Setelah bertahun-tahun tak berlomba di Sepang, mereka harus kembali beradaptasi dengan karakter sirkuit.

Sekaligus menghadapi panas dan kelembapan khas iklim tropis Malaysia.

Sepang, dengan kata lain, bukan sekadar tempat kembalinya Formula 1. Akhir pekan ini, sirkuit itu menjadi arena untuk menguji batas fisik pembalap.

Ada ketahanan mobil, dan kesiapan penyelenggara menghadapi cuaca yang tak sepenuhnya bersahabat. ***

 

Pos terkait