Ketika Ribuan Pelari Menggerakkan Ekonomi Kota Bandung, Ini yang Didapat

Ribuan Pelari
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan melintasi diantara tumbukan goodie bag event lari Pocari Sweat Run, Minggu 20 September 2026. (Foto: Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Pagi belum sepenuhnya sibuk ketika ribuan pelari mulai memenuhi jalan-jalan Kota Bandung. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar catatan waktu.

Hotel terisi, restoran didatangi, kendaraan bergerak, dan uang ikut berputar.

Bagi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, keramaian semacam itu adalah bagian dari wajah lain olahraga: pariwisata.

Farhan ingin Bandung lebih serius menggarap sport tourism.

Menurut dia, pertandingan dan perlombaan tidak berhenti di garis finis. Ada peserta yang menginap, makan, berbelanja, dan menghabiskan waktu di kota. Rangkaian aktivitas itu, kata dia, menjadi penggerak ekonomi.

Pandangan itu ia sampaikan dalam Lunch Gathering Pocari Sweat Run 2026 di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, 19 September 2026.

Farhan mengatakan Bandung dalam beberapa tahun terakhir semakin sering menjadi tuan rumah kegiatan olahraga, dari kompetisi nasional hingga ajang internasional.

Ia mencontohkan kejuaraan bridge internasional yang berlangsung tahun lalu. Sekitar 900 orang datang ke Bandung untuk bertanding. Olahraga itu memang tidak menghadirkan kerumunan seperti sepak bola atau lomba lari.

Kalender olahraga Bandung

“Ketika mereka bermain bridge harus tenang, makanya orang tidak banyak tahu. Tetapi itu menciptakan pergerakan ekonomi,” ujar Farhan.

Menurut Farhan, kalender olahraga Bandung ke depan akan semakin padat. Selain Pocari Sweat Run Indonesia, kota ini akan menjadi salah satu tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat.

Jambore Sepeda Lipat Nasional juga dijadwalkan berlangsung pada Desember.

“Bandung akan semakin ramai menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olahraga, baik yang kompetitif maupun yang berbentuk sport tourism,” katanya.

Pocari Sweat Run Indonesia menjadi salah satu agenda yang telah lama melekat dengan Bandung. Ajang tersebut berlangsung sejak 2017.

Sementara itu dua tahun terakhir, Pemerintah Kota Bandung ikut terlibat langsung dalam penyelenggaraannya.

Mengoordinasikan camat

Namun Farhan tidak hanya bicara soal ekonomi. Ia menyoroti keamanan peserta, terutama pelari yang berhenti di masjid sepanjang rute untuk menunaikan salat Subuh.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, kata dia, ada dua pelari yang kehilangan sepatu setelah salat sehingga gagal mengikuti lomba. Farhan meminta kejadian itu tidak terulang.

Pemerintah kota kemudian mengoordinasikan camat, lurah, dan Linmas di wilayah yang dilintasi peserta.

Mereka diminta menjaga keamanan barang milik pelari yang menggunakan fasilitas masjid.

“Selama dua hari ini, kalau ada peserta yang menumpang salat di masjid, tidak boleh ada satu pun barang yang hilang,” ujar Farhan.

Persoalan lain adalah pinch point, titik-titik yang rawan menimbulkan kepadatan atau konflik lintasan.

Menjaga Komunikasi

Pemerintah kota bersama penyelenggara telah mengevaluasi rute dan melakukan sejumlah penyesuaian. Sebagian besar lintasan lama tetap dipertahankan.

Farhan meminta peserta lebih berhati-hati ketika melewati persimpangan, termasuk kawasan di bawah jalan layang.

Di sisi lain, ia melihat hubungan antara pelari dan pengguna jalan selama lomba berjalan cukup baik.

Marshal dan peserta, menurut dia, mampu menjaga komunikasi dengan pengendara sehingga gangguan lalu lintas dapat ditekan.

Bagi Bandung, perlombaan lari itu akhirnya bukan hanya perkara siapa yang tercepat.

Di antara peluit marshal, sepatu yang menghantam aspal, dan ruas jalan yang ditutup sementara, ada satu hal lain yang ikut bergerak, ekonomi kota. ***

Pos terkait