Menjelajah Jogja Tanpa Ribet, Pelancong Bisa Kunjungi Lima Tempat Wisata Ini

Pelancong
Titik nol Kota Yogyakarta atau lebih dikenal dengan Jalan Malioboro Ujung. (Foto: Turisian.com/Adisas)

TURISIAN.com – Turun di menjadi langkah awal paling masuk akal bagi pelancong yang ingin menikmati Yogyakarta secara praktis.

Dari stasiun yang lebih akrab disebut Stasiun Tugu itu, denyut wisata Kota Gudeg langsung terasa. Bahkan sebelum penumpang benar-benar meninggalkan kawasan peron.

Tak ada kebutuhan mendesak untuk memesan transportasi daring atau berpindah kendaraan. Pusat kota berada dalam jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Becak dan andong masih hilir mudik, menawarkan ritme perjalanan yang lebih lambat—cara khas Jogja menikmati kota.

Berikut lima destinasi yang dapat dijangkau dengan mudah dari kawasan Stasiun Tugu.

Jalan Malioboro

Keluar dari pintu selatan stasiun, wisatawan langsung berhadapan dengan Malioboro. Koridor wisata yang selama puluhan tahun menjadi wajah utama Yogyakarta.

Jalur pedestrian yang lebar membuat kawasan ini nyaman disusuri pejalan kaki, baik untuk berburu oleh-oleh, memotret sudut kota, maupun sekadar menikmati suasana sore.

Deretan toko batik, pedagang suvenir, hingga musikus jalanan membentuk atmosfer yang sulit dipisahkan dari citra Jogja.

Di malam hari, kawasan ini berubah menjadi ruang publik yang ramai namun tetap terasa santai.

Pasat Beringharjo

Berjalan lebih jauh ke selatan dari Malioboro, wisatawan akan tiba di Pasar Beringharjo.

Pasar tradisional tertua di Yogyakarta ini masih menjadi tujuan utama pemburu batik dengan harga yang relatif terjangkau.

Di dalam pasar, aroma rempah, kain batik, dan jajanan tradisional bercampur menjadi pengalaman khas pasar lama Jawa.

Aktivitas tawar-menawar tetap hidup di tempat ini. Di area sekitar pasar, pengunjung juga bisa menemukan aneka kuliner tradisional. Termasuk pecel dan jajanan pasar yang sudah dijual turun-temurun.

Kampung Turis

Kampung Sosrowijayan

Tak jauh dari Malioboro terdapat Kampung Sosrowijayan, kawasan yang lama dikenal sebagai “kampung turis”.

Gang-gang sempit di wilayah ini dipenuhi penginapan murah, kafe kecil, hingga tempat berkumpul wisatawan domestik dan mancanegara.

Suasananya lebih tenang dibanding Malioboro, namun tetap hidup hingga malam hari.

Letaknya yang dekat dengan stasiun membuat kawasan ini menjadi pilihan favorit backpacker. Utamanya, yang ingin menghemat biaya perjalanan tanpa kehilangan akses ke pusat kota.

Titik Nol Kilometer Yogyakarta

Di ujung selatan Malioboro berdiri kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Area ini dikelilingi bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih terawat.

Mulai dari Gedung Agung, Kantor Pos Besar, hingga gedung lama Bank Indonesia.

Menjelang malam, kawasan ini dipenuhi wisatawan dan warga lokal yang duduk santai menikmati suasana kota.

Lampu jalan dan fasad bangunan tua menghadirkan suasana yang membuat kawasan ini menjadi salah satu ruang publik paling hidup di Yogyakarta.

Benteng Vredeburg

Tepat di sisi timur kawasan Titik Nol Kilometer berdiri Benteng Vredeburg, benteng peninggalan Belanda yang kini difungsikan sebagai museum sejarah perjuangan nasional.

Bangunan bergaya Eropa itu tidak hanya menawarkan diorama sejarah. Tetapi juga halaman luas dan sudut-sudut arsitektur yang kerap menjadi lokasi berfoto wisatawan.

Kompleks benteng menjadi penutup yang pas untuk perjalanan kaki dari Stasiun Tugu hingga pusat kota lama Yogyakarta.

Jogja, setidaknya di kawasan ini, memperlihatkan bahwa perjalanan wisata tidak selalu membutuhkan rencana rumit. Dari stasiun, kota itu sudah terbuka. ***

Pos terkait