Ambisi Indonesia Menuju Pusat Kebudayaan Dunia, Berangkat Dari Megadiversity Budaya

Pusat Kebudayaan Dunia
Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat memberikan sambutan dalam acara silaturahmi pegawai dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, baru-baru ini. (Foto: Dok.Kemenbud)

TURISIAN.com – Menteri Kebudayaan Fadli Zon melempar gagasan besar. Indonesia berpotensi menjelma sebagai pusat kebudayaan dunia.

Gagasan itu bertumpu pada kekayaan budaya Nusantara yang ia sebut sebagai megadiversity budaya. Keragaman yang nyaris tak tertandingi.

Dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jawa Timur, Minggu 22 Februari 2026 Fadli menyinggung fakta geografis dan antropologis Indonesia.

Lebih dari 17 ribu pulau, sekitar 1.340 suku bangsa, serta ratusan bahasa daerah menjadi fondasi kuat bagi posisi Indonesia sebagai kekuatan besar di bidang kebudayaan.

Menurut dia, keragaman tersebut bukan sekadar identitas nasional, melainkan modal strategis untuk menempatkan Indonesia dalam percaturan budaya global.

“Indonesia berpotensi menjadi pusat kebudayaan dunia dan kekuatan besar di bidang kebudayaan,” ujarnya.

Dalam forum itu, Fadli juga memperkenalkan istilah baru, “Out of Nusantara”, sebagai tawaran perspektif alternatif dalam melihat sejarah migrasi manusia.

Selama ini, teori Out of Africa mendominasi kajian asal-usul manusia modern.

Namun, ia menilai bukan mustahil kawasan Nusantara turut menjadi titik penting pergerakan manusia purba.

Ia merujuk sejumlah temuan arkeologis yang menunjukkan jejak kehidupan manusia di wilayah Nusantara telah ada sejak 60 ribu hingga 70 ribu tahun lalu.

Ruang Kajian

Temuan tersebut, menurutnya, membuka ruang kajian baru mengenai arus migrasi manusia menuju Pasifik, Australia, bahkan Afrika.

Selain menyoal prasejarah, Fadli menaruh perhatian pada peran museum sebagai etalase peradaban.

Ia mencontohkan Museum Louvre di Paris serta berbagai museum besar di Amerika Serikat yang berfungsi bukan hanya sebagai ruang penyimpanan artefak. Tetapi juga simbol identitas bangsa sekaligus pusat edukasi publik.

Ia berharap museum di Indonesia mampu memainkan peran serupa. Menjadi ruang belajar sekaligus wajah peradaban nasional.

Di sektor lain, Fadli menyinggung pertumbuhan industri kreatif, terutama film nasional. Ia menyebut film Indonesia kini menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar domestik.

Film animasi Jumbo, katanya, bahkan mencetak rekor jumlah penonton di dalam negeri. Sementara sejumlah karya sineas Indonesia tampil di festival internasional seperti Berlin International Film Festival dan Cannes Film Festival.

Bagi Fadli, kebudayaan merupakan fondasi yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

“Di mana pun latar belakang kita, tidak pernah bisa dilepaskan dari budaya,” ujarnya. ***

 

Pos terkait