Pertamina Turunkan Kapal Otonom Pembersih Sampah Laut di Bali

Sampah Laut
The Patra Bali Resort & Villas menggelar aksi bersih pantai di kawasan Pantai Sekeh, Tuban, Bali. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan kawasan pesisir.(Dok.Pertamina)

TURISIAN.com – Sampah laut masih menjadi persoalan yang sulit dipisahkan dari wajah pesisir Indonesia.

Di Bali, daerah yang menggantungkan sebagian besar denyut ekonominya pada sektor pariwisata, persoalan itu bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga citra destinasi.

Karena itu, PT Pertamina (Persero) memilih menghadirkan pendekatan berbeda.

Pada 10 Juni 2026, perusahaan energi milik negara itu meluncurkan Autonomous Trash Skimmer, kapal pembersih sampah berbasis teknologi kecerdasan buatan yang mulai dioperasikan di Pantai Sekeh, Kabupaten Badung, Bali.

Peluncuran kapal tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina yang dikembangkan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Momentum itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Sementara itu Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, yang memimpin peluncuran, menilai persoalan sampah laut telah berkembang menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan pesisir.

Menurut dia, dampaknya tidak hanya dirasakan ekosistem laut, tetapi juga sektor ekonomi yang bergantung pada kebersihan kawasan pantai.

Bagi Bali, persoalan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Pantai merupakan salah satu daya tarik utama yang mendatangkan jutaan wisatawan setiap tahun.

Ketika sampah memenuhi garis pantai, daya tarik itu perlahan memudar. Nelayan pun ikut merasakan dampaknya melalui penurunan hasil tangkapan akibat terganggunya ekosistem laut.

Tak hanya itu, sampah yang terbawa arus juga berpotensi mengganggu aktivitas industri.

Baling-baling kapal dapat tersangkut limbah, sistem pendingin peralatan tersumbat, hingga distribusi energi terganggu akibat akumulasi sampah di wilayah perairan operasi.

Autonomous Trash Skimmer

Berangkat dari persoalan tersebut, Pertamina mengembangkan Autonomous Trash Skimmer bersama sejumlah mitra.

Antara lain Pertamina International Shipping, Pertamina Foundation, Patra Jasa, ITS, serta masyarakat pesisir setempat.

Kapal sepanjang delapan meter itu mengusung desain lambung ganda atau catamaran.

Di dalamnya tertanam beragam perangkat teknologi. Mulai dari sensor ultrasonik, kamera, GPS, sistem pemantauan real-time.

Hingga kecerdasan buatan yang memungkinkan kapal mengenali dan mendekati kumpulan sampah secara mandiri.

Sumber tenaganya pun dirancang ramah lingkungan. Kapal menggunakan motor listrik yang didukung sistem hibrida serta panel surya sebagai pasokan energi tambahan.

Dengan teknologi tersebut, operasi pembersihan sampah dapat dilakukan dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan peralatan konvensional.

Tak sekadar mengumpulkan sampah, kapal ini juga dilengkapi jaring penangkap di bagian tengah.

Termasuk, mesin pencacah plastik untuk mendukung proses daur ulang, serta katrol elektrik berkapasitas 500 kilogram guna memudahkan pengangkatan sampah berukuran besar.

The Patra Bali

Sebagai tahap awal, kawasan The Patra Bali Resort & Villas dipilih menjadi lokasi uji coba.

Kawasan itu dinilai strategis karena berada di wilayah dengan aktivitas wisata yang tinggi.

Sekaligus berdekatan dengan Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai, salah satu infrastruktur energi penting di Bali.

Melalui program tersebut, Pertamina menargetkan pengurangan sampah pesisir di sekitar kawasan operasi hingga satu ton per tahun.

Sementara di Kalimantan Selatan, kapal serupa akan ditempatkan di wilayah Terminal BBM Kotabaru, tepatnya di Desa Semayap dan Desa Rampa.

Di kawasan itu, pengurangan sampah ditargetkan mencapai sekitar 20 ton per tahun.

Pertamina melihat proyek ini bukan sekadar solusi lokal. Model pengelolaan sampah berbasis teknologi tersebut disiapkan untuk direplikasi ke berbagai wilayah operasi perusahaan lainnya.

Mulai dari Cilacap dan Balongan hingga Ternate, Wayame, Parepare, Masohi, dan Labuan Bajo.

Di tengah tuntutan transisi energi dan target Net Zero Emission 2060, perusahaan berupaya menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk proyek berskala besar.

Kadang, ia datang dalam rupa kapal kecil yang bekerja senyap di permukaan laut, mengumpulkan sampah yang selama ini luput dari perhatian. ***

Pos terkait