TURISIAN.com – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memangkas sejumlah tahapan dalam pengembangan aplikasi.
Namun, teknologi ini tak serta-merta menjamin aplikasi yang dihasilkan berguna. Pengembang tetap perlu memahami persoalan pengguna sebelum merancang fitur.
AI and Fullstack Trainer Codepolitan, Aditya Fakhri Riansyah, mengatakan pembuatan aplikasi sebelum era AI menuntut penguasaan berbagai keterampilan teknis.
Sementara itu pengembang harus memahami bahasa pemrograman, kerangka kerja (framework), basis data (database). Hingga, proses mencari dan memperbaiki kesalahan kode (debugging).
Kini, sejumlah perangkat AI dapat membantu pekerjaan tersebut. Mulai dari merancang antarmuka, membangun bagian depan aplikasi (front-end), hingga mengembangkan bagian belakang (back-end) yang mengelola sistem.
Proses yang sebelumnya memakan waktu panjang pun bisa berlangsung lebih cepat.
Namun, Aditya mengingatkan bahwa kemudahan teknis bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan pengguna.
Pengembangan aplikasi perlu menelusuri persoalan yang dihadapi masyarakat, membaca kebutuhan pasar. Dan menentukan siapa yang akan menggunakan aplikasi tersebut.
Sebab, aplikasi dengan segudang fitur belum tentu berhasil. Fitur yang tidak dibutuhkan pengguna hanya akan menambah kerumitan tanpa memberikan manfaat berarti.
Pengembang, menurut Aditya, perlu berpikir sebagai pembuat produk (product builder), bukan sekadar penulis kode.
Dengan cara itu, AI menjadi alat untuk mempercepat lahirnya solusi. Bukan sekadar mesin untuk menghasilkan aplikasi. ***





