Ketika Hobi Menjadi Alasan untuk Berwisata, Datang untuk Berlari

Datang untuk berlari
Ilustrasi - event lari yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata. (Dok.Pixabay.com)

TURISIAN.com – Orang bepergian bukan lagi semata-mata untuk melihat tempat baru. Sebagian datang untuk berlari, mengikuti kompetisi olahraga, atau menghadiri acara komunitas.

Destinasi menjadi penting, tetapi aktivitas yang menunggu di sana kini ikut menentukan ke mana perjalanan akan berujung.

Tren perjalanan berbasis minat itu menjadi perhatian tiket.com. Platform perjalanan tersebut melihat peluang bagi wisatawan untuk menggabungkan hobi dengan liburan.

termasuk mengajak keluarga menikmati destinasi yang sama.

“Jadi bukan hanya destinasinya yang matters, tapi apa yang bisa dilakukan di destinasi. Itu juga menjadi salah satu faktor yang mendorong liburan masyarakat,” kata SVP Brand Marketing tiket.com, Maria Risa Puspitasari, dalam konferensi pers Online Tiket Week (OTW) tiket.com, Kamis, 22 Oktober 2026.

Pernyataan Maria menunjukkan perubahan cara orang merencanakan perjalanan. Tempat tujuan bukan lagi satu-satunya pertimbangan.

Agenda kegiatan, pengalaman yang ditawarkan, dan kesempatan menikmati waktu bersama orang terdekat ikut masuk dalam perhitungan. Termasuk datang untuk berlari dalam sebuah event.

Dari Arena Olahraga ke Destinasi Wisata

Sementara itu Co-Founder dan CMO tiket.com, Gaery Undarsa, menilai hobi dan kegiatan komunitas dapat menjadi pemicu perjalanan lintas kota, bahkan lintas negara.

Ia mencontohkan Hyrox, ajang kebugaran yang menarik peserta dari luar kota hingga mancanegara untuk datang ke Jakarta.

Kompetisi lari maraton di berbagai daerah juga memiliki potensi serupa.

Peserta yang datang untuk bertanding tidak harus langsung pulang setelah perlombaan selesai.

Mereka bisa memperpanjang masa tinggal, mencicipi kuliner setempat, mengunjungi objek wisata, atau menginap bersama keluarga.

Di titik inilah acara olahraga berpeluang memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian daerah.

Belanja wisatawan tidak berhenti pada biaya pendaftaran dan perjalanan menuju lokasi acara.

Pengeluaran juga dapat mengalir ke hotel, restoran, transportasi, serta pelaku usaha lokal.

Bagi daerah tujuan wisata, tantangannya adalah mengubah kunjungan peserta menjadi pengalaman berwisata yang lebih panjang.

Acara olahraga dapat menjadi pintu masuk, sedangkan daya tarik lokal menentukan apakah wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.

BACA JUGA: Event Lari Jatiluwih Fun Run Bakal Targetkan 10 Ribu Pelari, Start di Pulau Dewat

Berlari, Berlibur, dan Mengajak Keluarga

Perjalanan berbasis hobi juga tidak harus menjadi agenda individual. Maria mencontohkan orangtua yang mengikuti perlombaan lari sambil membawa anak-anak berlibur.

Saat orangtua berada di lintasan, anggota keluarga lain dapat menikmati aktivitas wisata yang tersedia di sekitar destinasi.

Setelah perlombaan usai, mereka bisa melanjutkan perjalanan bersama.

Pola semacam ini mempertemukan dua kebutuhan: menyalurkan minat pribadi dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Sedangkan destinasi yang menarik bukan hanya tempat yang memiliki acara utama. Melainkan juga menawarkan kegiatan alternatif bagi anggota keluarga dengan kebutuhan berbeda.

Bagi pengelola destinasi, peluangnya terletak pada kemampuan menghubungkan acara dengan produk wisata lain.

Kompetisi olahraga, misalnya, dapat dipadukan dengan wisata kuliner, rekreasi alam, kunjungan budaya, hingga pilihan akomodasi yang sesuai untuk keluarga.

Keluarga Masih Menjadi Pertimbangan

Meski minat dan acara tertentu dapat memicu perjalanan, liburan keluarga tetap menjadi salah satu pendorong utama masyarakat Indonesia bepergian di luar urusan bisnis, kata Gaery.

Perjalanan bersama keluarga membutuhkan perencanaan yang lebih rumit dibandingkan perjalanan seorang diri.

Tiket pesawat, akomodasi, lokasi penginapan, transportasi, dan jadwal libur anak harus disesuaikan agar perjalanan berjalan lancar.

Pertimbangan itu juga berkaitan dengan pengalaman yang ingin diperoleh wisatawan.

Gaery menyebut survei tiket.com bersama Lokadata menunjukkan 88 persen responden bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik.

Pengalaman tersebut dapat berupa kenyamanan, kualitas layanan, atau kebutuhan perjalanan yang lebih personal.

Angka itu memperlihatkan pentingnya nilai yang dirasakan wisatawan ketika memilih perjalanan.

Harga bukan satu-satunya pertimbangan; pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan juga menjadi bagian dari keputusan.

Bagi industri pariwisata, perpaduan antara hobi, acara olahraga, dan liburan keluarga membuka ruang untuk menawarkan pengalaman yang lebih beragam.

Sebuah kompetisi dapat mendatangkan pengunjung, tetapi daya tarik destinasi, kualitas layanan, dan pilihan aktivitas tambahan berpotensi membuat mereka tinggal lebih lama.

Pada akhirnya, perjalanan tidak selalu dimulai dari pertanyaan hendak pergi ke mana.Datang untuk berlari juga bisa menjadi pilihan.

Ada kalanya, pertanyaan yang lebih menentukan justru, apa yang ingin dilakukan, dan siapa yang ingin diajak menikmati perjalanan itu? ***

Pos terkait