Festival Bahari Laut: Kepulauan Seribu Menjual Tradisi, Bukan Akar Budaya

Festival Bahari Laut
Dua peserta Festival Bahari Laut melambaikan tangan usai mengikuti lomba di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, baru-baru ini. (Dok.Pemda DKI)

TURISIAN.com – Perahu-perahu yang dihias menjadi bagian dari Festival Bahari Laut di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Tradisi sedekah laut yang diwariskan dari generasi ke generasi itu kini mendapat peran baru: menjadi pintu masuk bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat pesisir.

Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan mengatakan sedekah laut merupakan kearifan lokal yang layak dipertahankan.

Ia menginginkan tradisi tersebut masuk dalam agenda tahunan pemerintah daerah.

“Sedekah laut ini adalah kearifan lokal yang luar biasa. Tentunya harus sama-sama kita agendakan dari tahun ke tahun. Hal ini untuk menjaga keselamatan kita semua sekaligus melestarikan tradisi yang sudah dilakukan sejak nenek moyang,” kata Fadjar di Jakarta, Senin 5 Oktober 2026.

Menurut Fadjar, tradisi masyarakat pesisir dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata tanpa harus mencabutnya dari akar budaya.

Pengalaman Wisata

Hiasan kapal, aktivitas nelayan, serta berbagai ritual masyarakat bahari dapat dikemas menjadi pengalaman wisata bagi pengunjung.

Namun, ia mengingatkan agar komersialisasi tidak menghilangkan makna tradisi.

“Kita kemas dengan sebaik-baiknya tanpa mengurangi akar budaya. Dengan begitu wisatawan bisa menikmati tradisi dan kearifan lokal yang ada,” ujarnya.

Bagi Fadjar, ukuran keberhasilan pariwisata bukan semata jumlah wisatawan yang datang. Warga setempat mesti ikut menikmati perputaran uang yang dibawa para pelancong.

Masyarakat, kata dia, jangan hanya menjadi penonton. Mereka dapat terlibat melalui pengelolaan homestay, penjualan kuliner, hingga produk olahan hasil laut.

Dengan cara itu, pariwisata diharapkan tidak berhenti pada urusan kunjungan, tetapi menjalar menjadi sumber pendapatan baru bagi warga.

Persoalan lain berada di luar kawasan wisata: transportasi. Kepulauan Seribu masih membutuhkan konektivitas laut yang lebih baik.

Tujuannya agar wisatawan mudah bergerak dari dan menuju pulau-pulau tujuan.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu karena itu mendorong pengembangan transportasi laut.

Termasuk rencana menjadikan Transjakarta sebagai operator.

Fadjar meminta dukungan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak untuk merealisasikan gagasan tersebut.

“Kapal-kapal tradisional juga dapat mendukung konektivitas,” kata dia.

Kelompok filantropi

Festival Bahari Laut, bagi Fadjar, menjadi contoh bagaimana pemerintah, komunitas, dan masyarakat dapat bertemu dalam satu kegiatan.

Pemerintah daerah berencana mengembangkan kegiatan serupa dengan konsep yang lebih profesional.

Sementara mereka juga akan menggandeng kelompok filantropi dan komunitas lain.

Targetnya sederhana, yakni membuat wisata Kepulauan Seribu lebih hidup dan memastikan denyut ekonominya terasa sampai ke rumah-rumah warga.

Sedangkan Lurah Pulau Panggang mengatakan seluruh rangkaian Festival Bahari Laut berlangsung lancar. Persiapan kegiatan dilakukan dalam waktu relatif singkat.

Tradisi lama kini berhadapan dengan tantangan baru. Sedekah laut bukan sekadar perkara menghanyutkan sesaji atau menghias perahu.

Di Kepulauan Seribu, ia sedang diuji menjadi komoditas wisata tanpa kehilangan identitas yang membuatnya bernilai. ***

Pos terkait