Tak Perlu Toko dan Modal Besar, Gerobak’ku Buka Jalan Baru Menjadi Pengusaha

Gerobak’ku
Ketua IHGMA DPP Yogyakarta Iwan Ridwan Munajat saat mengunjungi rumah makan Ramen Mura di sela-sela kunjungan bersama HOD, baru-baru ini. (Foto: Ist)

TURISIAN.com – Menjadi pengusaha tak selalu dimulai dari toko, modal besar, atau keputusan meninggalkan pekerjaan tetap. Gerobak’ku, punya konsep menarik. Apa itu?

Kadang ia berawal dari waktu luang, dapur rumah, atau pengalaman yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam pekerjaan.

Gagasan itu yang hendak dikembangkan PT Sembilan Cipta Indonesia melalui Gerobak’ku Ready to Eat & Ready to Cook.

Produk makanan beku tersebut diposisikan bukan sekadar sebagai barang dagangan. Melainkan pintu masuk bagi mereka yang ingin mencoba dunia usaha dengan skala yang lebih sederhana.

Gerobak’ku sebelumnya diperkenalkan melalui lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Sasaran itu kini diperluas. Guru, mahasiswa, profesional, keluarga, hingga pekerja yang mendekati masa pensiun.

Mereka akan ditempah  menjadi bagian dari pasar sekaligus calon pelaku usaha.

Sementara itu CEO dan Founder PT Sembilan Cipta Indonesia Robby Syahputra mengatakan kewirausahaan tidak semestinya berhenti sebagai teori di ruang kelas.

“Kami ingin kewirausahaan tidak berhenti sebagai sebuah pelajaran di ruang kelas. Kami ingin anak-anak belajar bahwa sebuah peluang bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana,” ujar Robby.

Menurut dia, gagasan tersebut kemudian berkembang. Guru atau profesional, misalnya, tidak harus langsung membuka toko untuk mulai berusaha.

Mereka dapat memanfaatkan rumah, lingkungan pergaulan, atau waktu yang sebelumnya tidak produktif.

“Mereka bisa memulainya dari rumah, dari lingkungan sekitar, bahkan dari waktu yang selama ini mungkin belum termanfaatkan,” katanya.

Bagi Robby, inti kewirausahaan bukan semata-mata menghitung keuntungan.

Ada keberanian mengambil langkah pertama, membaca kebutuhan pasar, dan kesediaan belajar dari pengalaman.

“Yang kami bangun bukan hanya aktivitas jual beli. Kami ingin membangun pola pikir. Bahwa setiap orang sebenarnya memiliki peluang untuk menciptakan sesuatu yang produktif dari apa yang sudah mereka miliki,” ujar dia.

Waktu Luang Menjadi Ruang Usaha

Sedangkan bagi sejumlah guru, konsep tersebut menemukan bentuknya dalam kegiatan di luar jam mengajar.

Chusnul Chotimah, guru SMKN 1 Purwosari, melihat Gerobak’ku sebagai kesempatan memanfaatkan waktu di luar sekolah.

Ia tak perlu menyewa tempat usaha atau menyiapkan modal besar untuk memulainya.

“Yang menarik bagi saya adalah konsepnya. Saya tidak harus memiliki toko dan tidak harus menyiapkan modal yang besar,” ungkapnya.

“Waktu yang sebelumnya kosong bisa saya manfaatkan untuk belajar sekaligus mencoba menjalankan usaha,” sambung Chusnul.

Ia tetap menjalankan profesinya sebagai guru sembari belajar mengenali konsumen, menawarkan produk, mengatur waktu, dan membangun keberanian berusaha.

Pengalaman serupa dirasakan Weni Susanti, guru SMKN 1 Kokap, Kulon Progo. Bagi Weni, kegiatan itu bukan semata perkara menjual makanan beku.

“Ada proses belajar di dalamnya. Kita belajar mengelola waktu, berkomunikasi dengan pelanggan, memahami kebutuhan pasar dan yang paling penting adalah berani memulai,” ujar Weni.

Model seperti ini memperlihatkan bahwa pekerjaan utama dan kegiatan kewirausahaan tak selalu harus dipertentangkan.

Keduanya bisa berjalan beriringan selama skala usaha disesuaikan dengan kemampuan pelakunya.

Chusnul Chotimah, Guru SMKN 1 Purwosari saat berkunjung ke Gerobak’ku dan diteriam langsung oleh CEO dan Founder PT Sembilan Cipta Indonesia Robby Syahputra, baru-baru ini. (Foto: Ist)

Merambah Hotel dan Industri Hospitality

Gerobak’ku juga mulai mencari pasar di luar konsumen rumah tangga. Salah satunya sektor hospitality, terutama hotel yang membutuhkan produk ready to cook untuk operasional dapur.

Di titik ini, model bisnis yang ditawarkan tidak berhenti pada hubungan pemasok dan pembeli.

Produk yang masuk ke dapur hotel juga berpotensi menjadi bagian dari produk yang ditawarkan kembali kepada tamu.

“Kami ingin membangun hubungan yang saling memberikan nilai. Hotel mendapatkan alternatif untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. Sementara di sisi lain ada peluang untuk menciptakan tambahan revenue melalui produk yang dapat dijual kembali,” ujar Robby.

Pendekatan itu menempatkan produk sebagai bagian dari ekosistem usaha. Hotel memperoleh alternatif pasokan, sedangkan pemasok mendapatkan saluran distribusi baru.

MPP Bukan Garis Akhir

Persoalan lain yang coba disentuh Gerobak’ku adalah masa menjelang pensiun. Bagi pekerja yang telah puluhan tahun berada dalam dunia kerja, MPP sering dipahami sebagai batas antara masa produktif dan masa setelah pekerjaan.

Robby melihatnya berbeda.

“MPP bukan garis akhir. Bisa jadi justru merupakan pintu masuk menuju babak baru dalam kehidupan seseorang,” katanya.

Pengalaman bekerja, jaringan, kemampuan berkomunikasi, dan pemahaman terhadap karakter orang lain.

Beberapa hal tersebut, menurut Robby, dapat menjadi modal untuk memulai kegiatan ekonomi baru.

“Seseorang yang puluhan tahun bekerja tentu memiliki pengalaman, jaringan, kemampuan berkomunikasi dan memahami karakter orang lain. Semua itu adalah modal. Tinggal bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi peluang baru,” ujar dia.

Pandangan itu sejalan dengan Ketua IHGMA DPP Yogyakarta Iwan Ridwan Munajat.

Menurut Iwan, pekerja hospitality memiliki modal pengalaman yang cukup kuat untuk mengembangkan aktivitas produktif setelah memasuki masa MPP.

“Teman-teman hospitality memiliki pengalaman yang sangat kaya. Mereka terbiasa melayani tamu, mengelola operasional, berkomunikasi dan bekerja dengan target,” kata Iwan.

Karena itu, persiapan sebaiknya tidak menunggu masa MPP tiba.

“Jangan menunggu MPP baru kemudian berpikir akan melakukan apa. Persiapan sebaiknya dimulai sejak sekarang. Ketika waktunya tiba, mereka sudah memiliki pilihan dan aktivitas yang bisa diteruskan,” ujarnya.

Memburu 200 Reseller

Gagasan memperluas akses kewirausahaan itu kemudian diterjemahkan dalam target bisnis.

PT Sembilan Cipta Indonesia menargetkan pembentukan 200 reseller Gerobak’ku hingga akhir 2026.

Target tersebut disampaikan Robby di sela pertemuan dengan salah satu perusahaan maskapai penerbangan mengenai peluang suplai kebutuhan penerbangan.

Dalam pertemuan itu, Robby didampingi CFO PT Sembilan Sariboga Indonesia Raymond Pandi.

Raymond mengatakan angka 200 bukan sekadar target distribusi.

“Kami menargetkan 200 reseller sampai akhir tahun ini. Namun bagi kami, angka 200 bukan sekadar angka penjualan. Di balik setiap reseller ada satu keluarga, satu individu dan satu peluang ekonomi yang ingin kami tumbuhkan,” ujar Raymond.

Model yang ditawarkan, kata dia, tidak menjanjikan semua orang menjadi pengusaha besar. Yang dibuka adalah kesempatan memulai usaha dalam skala yang sesuai kemampuan.

“Kami ingin mereka berani memulai. Mulai dari kecil, belajar, memahami pasar, membangun pelanggan, kemudian berkembang sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.

Bagi perusahaan, jumlah reseller sekaligus menjadi ukuran seberapa jauh gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi di tingkat rumah tangga.

Weni Susanti, guru SMKN 1 Kokap, Kulon Progo saat menerimam produk Gerobak’ku. ( foto: ist)

Dari Rumah, Bukan Dari Gedung Besar

Gerobak’ku pada akhirnya membawa gagasan yang lebih sederhana daripada sekadar menjual frozen food. Ia mencoba menjadikan kewirausahaan sesuatu yang dekat dengan keseharian.

Pelajar dapat mengenal usaha sejak di bangku sekolah. Mahasiswa dapat belajar membaca pasar. Guru dapat mengisi waktu di luar mengajar.

Profesional dapat memiliki kegiatan ekonomi lain. Mereka yang mendekati masa pensiun pun dapat mempersiapkan kehidupan setelah pekerjaan utama berakhir.

“Kami tidak ingin Gerobak’ku hanya dikenal sebagai frozen food. Kami ingin Gerobak’ku dikenal sebagai salah satu pintu masuk bagi siapa saja yang ingin belajar menjadi entrepreneur,” ujar Robby.

Ia mengatakan perusahaan menyediakan produk, sistem, dan ruang belajar. Selebihnya bergantung pada pelaku usaha.

“Kami menyediakan produk, sistem dan kesempatan untuk belajar. Tetapi keberhasilan tetap ditentukan oleh kemauan untuk mencoba, konsistensi dan kerja keras masing-masing orang.”

Dari sana lahir sebuah slogan: “Dari Rumah, Dari Sekolah, Dari Waktu Luang—Gerobak’ku Bisa Jadi Peluang.”

Slogan itu terdengar sederhana. Namun pesannya cukup jelas: peluang usaha tak selalu menunggu modal besar atau kantor baru.

Ia bisa tumbuh dari dapur rumah, sela waktu mengajar, masa libur, pengalaman bekerja, atau jaringan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Yang diperlukan mungkin bukan pintu yang besar, melainkan keberanian membuka pintu yang kecil terlebih dahulu. ***

Pos terkait