TURISIAN.com – Tokoh pariwisata nasional Henry Husada menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.
Utamanya, dalam mendorong praktik pengelolaan sampah secara mandiri di sektor industri pariwisata.
Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan pilar penting untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Henry menilai penegasan Kemenpar menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius membangun kolaborasi konkret dengan pelaku industri.
Khususnya perhotelan dan restoran, agar lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap tata kelola sampah.
“Saya pikir masalah sampah hotel dan restoran harus menjadi perhatian bersama. Bagaimana pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan baik,” ujar Henry, yang juga CEO Kagum Group, menanggapi komitmen pemerintah tersebut.
Sebelumnya, saat menghadiri Rapat Kerja Nasional I PHRI 2026 di PO Hotel Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026), Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa isu sampah berada dalam kondisi krusial dan menjadi perhatian serius pemerintah.
Kesadaran Kolektif
Dalam forum yang digelar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia itu, ia menekankan pentingnya penguatan kesadaran kolektif serta langkah nyata di tingkat pelaku usaha.
“Hal ini tercermin dari berbagai langkah tambahan untuk meningkatkan kesadaran serta penguatan pengelolaan sampah mandiri. Presiden Prabowo Subianto juga telah menginisiasi Gerakan Indonesia ASRI,” kata Widiyanti.
Di tingkat Kabinet Merah Putih, kementerian dan lembaga terkait tengah menggulirkan berbagai inisiatif masif guna mengakselerasi penyelesaian persoalan sampah.
Selain memperluas kerja sama dengan mitra internasional, pengembangan program waste-to-energy menjadi salah satu alternatif. Terutama, dalam membangun infrastruktur pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi.
Dalam konteks tersebut, Widiyanti berpandangan bahwa praktik pengelolaan sampah mandiri oleh hotel dan restoran akan memberi kontribusi konkret terhadap agenda nasional.
Sekaligus memperkuat citra destinasi yang bersih dan berdaya saing. Upaya ini bukan hanya berdampak pada kualitas lingkungan. Tetapi juga mempertegas komitmen Indonesia dalam menjaga keberlanjutan di mata wisatawan global.
Henry menambahkan, selama ini PHRI telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga standar layanan dan memperkuat daya saing pariwisata nasional.
Karena itu, ia berharap kolaborasi yang telah terjalin semakin solid, termasuk dalam merespons tantangan lingkungan yang kian kompleks.
“Ke depan, praktik pengelolaan sampah mandiri bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Industri harus bergerak bersama pemerintah agar pariwisata Indonesia tumbuh tanpa meninggalkan beban ekologis,” ujar Henry. ***





