TURISIAN.com – Pemerintah DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) mengajak pelaku usaha hotel dan restoran meninggalkan pola persaingan yang saling melemahkan.
Justru, yang sangat penting dilakukan dalah menjalin kolaborasi yang memperkuat ekosistem pariwisata.
Di tengah tekanan ekonomi, perubahan perilaku wisatawan, dan tantangan global, penguatan sumber daya manusia dipandang perlu.
Termasuk, inovasi layanan berbasis kearifan lokal, serta keterhubungan dengan desa wisata dan ekonomi kreatif.
Dua hal ini dinilai menjadi kunci keberlanjutan industri pariwisata DIY
Ajakan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II BPD PHRI DIY, baru-baru ini di Grand Rohan Hotel Jogja, Banguntapan, Bantul.
Acara itu dihadiri jajaran pengurus BPD dan BPC PHRI se-DIY, perwakilan instansi pemerintah, serta para pemangku kepentingan pariwisata.
Menurut Ni Made, berbagai tantangan yang dihadapi sektor hotel dan restoran tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan individual.
Saling Menguatkan
“Jawaban atas situasi ini bukanlah kompetisi yang saling melemahkan, melainkan kolaborasi yang saling menguatkan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan rantai pasok berbasis lokal. Serta inovasi produk dan layanan yang terintegrasi dengan desa wisata, budaya, dan sektor ekonomi kreatif.
Ni Made juga menyoroti perubahan perilaku wisatawan yang kian memengaruhi pola layanan dan strategi usaha pariwisata di Yogyakarta.
Wisatawan, kata dia, kini lebih memilih kunjungan singkat, sensitif terhadap harga, dan menuntut pengalaman yang autentik serta berkelanjutan.
Sementara kondisi ini menuntut transformasi mendasar di sektor hotel dan restoran.
“Hotel dan restoran tidak lagi cukup hanya menjual kamar dan menu. Nilai tambah harus hadir melalui cerita, kualitas layanan, dan pengalaman khas Yogyakarta yang tidak ditemukan di tempat lain,” ujarnya.
Sementara itu dalam konteks digitalisasi, Ni Made mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tidak menggerus karakter dan kekuatan lokal.
Adaptasi teknologi, menurut dia, harus berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas dan kemandirian usaha pariwisata DIY.
“Identitas lokal adalah kekuatan utama Yogyakarta yang tidak boleh hilang dalam arus modernisasi,” katanya.
Sedangkan pada kesempatan yang sama, Ketua PHRI Kabupaten Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo menyebut Rakerda PHRI 2026 sebagai ruang evaluasi.
Sekaligus perumusan arah kebijakan organisasi ke depan. Forum tersebut juga menjadi ajang memperkuat sinergi antara BPD dan BPC PHRI di seluruh wilayah DIY.
“Rakerda ini bertujuan mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya. Merumuskan kebijakan organisasi ke depan. Serta memperkuat sinergi agar tercipta ekosistem pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan,” ujar Yohanes.
Dengan kolaborasi yang lebih erat dan inovasi yang berpijak pada kekuatan lokal, PHRI DIY berharap industri hotel dan restoran Yogyakarta mampu bertahan. Sekaligus tumbuh di tengah perubahan lanskap pariwisata. ***





