Musim Dingin di Pasar Heilongjiang, Destinasi Menarik Saat Suhu Minus 20 Derajat

Heilongjiang
Seorang ibu menarik "roda salju" yang dinaiki anaknya di Kota Hengdaohezi di Kota Hailin, timur laut Provinsi Heilongjiang, China, Kamis 15 Januari 2025. Kota ini awalnya didirikan pada akhir abad 19 ketika Rusia membangun bengkel pemeliharaan kereta api dan fasilitas lainnya di sana setelah pembangunan Kereta Api Timur Cina. (Foto: Xinhua/Yang Zhe)

TURISIAN.com – Di bawah langit pucat musim dingin, ketika jarum termometer di Provinsi Heilongjiang merosot hingga minus 20 bahkan minus 30 derajat Celsius, denyut kehidupan justru terasa paling hangat di pasar-pasar pagi.

Di wilayah paling utara China itu, musim dingin bukan alasan untuk berhenti, melainkan cara lain untuk merayakan rutinitas harian.

Sejak fajar belum sepenuhnya merekah, deretan kios sudah terbentang di berbagai kota dan kabupaten Heilongjiang.

Lapak-lapak sederhana beralas kayu dan terpal berdiri berjejer. Memamerkan sayuran beku alami, daging, ikan sungai yang mengeras seperti pahatan kristal.

Hingga roti kukus dan jajanan hangat. Suara pedagang memanggil pembeli bersahut-sahutan, menggema di udara yang kaku oleh dingin.

Uap putih mengepul dari panci-panci besar berisi sup panas, baozi, dan mi kuah. Asap itu menari perlahan, membentuk kabut tipis yang kontras dengan wajah-wajah memerah para pedagang dan pembeli.

BACA JUGA: Festival Bunga Premtis Tahunan Dimulai di Perbukitan Yongtai Fujian China

Topi Bulu

Sarung tangan tebal, topi bulu, dan syal menutupi hampir seluruh tubuh, menyisakan mata yang berbinar—menandai semangat yang tak ikut membeku.

Warga setempat datang dengan langkah mantap. Mereka sudah terbiasa menembus dingin ekstrem demi kebutuhan sehari-hari.

Tangan-tangan cekatan memilih kentang, kubis, dan lobak yang membeku, sementara transaksi berlangsung cepat, seolah setiap detik di udara terbuka adalah tantangan tersendiri.

Bagi mereka, pasar pagi adalah ruang perjumpaan sosial, tempat saling menyapa dan bertukar kabar, sekaligus simbol ketahanan hidup.

Di antara kerumunan itu, wisatawan tampak berjalan lebih pelan. Kamera dan ponsel kerap terangkat, mengabadikan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain.

Ada ikan beku berdiri tegak, daging yang dipotong dengan gergaji kecil, dan jajanan panas yang langsung menghangatkan telapak tangan.

Pasar pagi di Heilongjiang menjadi atraksi tersendiri—perpaduan antara kebutuhan ekonomi dan pengalaman budaya musim dingin.

Meski dingin menusuk tulang, pasar-pasar pagi itu tetap beroperasi setiap hari. Kehangatan bukan datang dari suhu, melainkan dari aktivitas yang terus bergerak.

Dari senyum singkat di balik syal, dan dari kepulan uap panas yang menjadi saksi bahwa kehidupan di Heilongjiang tak pernah berhenti. Bahkan ketika musim dingin mencapai puncaknya. ***

Pos terkait