Ribuan Pemegang Tiket Piala Dunia 20226 Batalkan Kehadiran, Lho Ada Apa?

Piala Dunia
Ilustrasi stadion sepakbola di Jerman. (Dok.Unsplash/Johannes Hübner)

TURISIAN.com – Biasanya, menjelang Piala Dunia, antrean panjang dan layar ponsel yang tak henti memuat laman pembelian tiket menjadi pemandangan lazim.

Namun suasana itu tampak bergeser menjelang Piala Dunia 2026. Alih-alih euforia, kegelisahan justru menyelinap ke benak ribuan calon penonton.

Dalam satu malam, sekitar 16.800 pemegang tiket Piala Dunia 2026 menarik diri dari pesanan mereka.

Angka itu mencuat di tengah persiapan turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Tiga negara yang seharusnya menjadi panggung perayaan sepak bola global.

Yang terjadi justru sebaliknya: tanda tanya besar menggelayut di atas pesta olahraga empat tahunan ini.

Media sosial menjadi ruang gema kegelisahan tersebut. Seruan boikot berseliweran, terutama dari pendukung internasional yang merasa tak lagi disambut sebagai tamu.

Kekhawatiran soal keamanan, kebijakan perjalanan yang kian ketat, hingga iklim politik Amerika Serikat menjadi alasan yang berulang kali muncul.

Padahal FIFA dikenal menerapkan kebijakan no-cancellation bagi tiket yang sudah terjual. Karena itu, pembatalan diduga terjadi pada fase ketiga penjualan.

Saat calon penonton menarik diri dari proses undian atau membatalkan pembelian melalui organisasi anggota.

FIFA pun dikabarkan menggelar rapat darurat, membahas penurunan komitmen pembeli tiket sekaligus risiko reputasi turnamen.

BACA JUGA: Berburu Suvenir Piala Eropa 2024, Harga Topi Sampai Rp 400 Ribu

Ketika visa menjadi tembok

Masalah sesungguhnya tak berhenti pada tiket. Bagi ribuan suporter dari negara peserta, perjalanan menuju stadion bahkan belum dimulai dan bisa jadi tak pernah terjadi.

Kebijakan larangan perjalanan yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat kembali menjadi sorotan.

Aturan yang dikeluarkan di era Presiden Donald Trump itu mencakup larangan penuh atau sebagian terhadap lebih dari 30 negara.

Di antaranya terdapat Iran, Haiti, Pantai Gading, dan Senegal. Empat negara yang telah memastikan tempat di Piala Dunia 2026.

Pemain dan ofisial tim mendapat pengecualian. Para pendukung tidak.

“Kalau Amerika Serikat melarang warga dari negara tertentu, seharusnya mereka tak menjadi tuan rumah Piala Dunia,” kata Djibril Gueye, pendukung Senegal, dengan nada getir.

Bagi sebagian fans, mimpi menyaksikan tim nasional berlaga di panggung dunia perlahan menjauh.

Ada yang tetap mencoba mencari celah, seperti Sheikh Sy, penggemar fanatik Senegal yang terbiasa mengikuti timnya ke berbagai belahan dunia.

Namun ada pula yang memilih menunggu, termasuk kelompok suporter perempuan Senegal yang berharap kebijakan tersebut berubah sebelum peluit pertama dibunyikan.

Kekhawatiran dari pinggir lapangan

Kegelisahan itu tak hanya hidup di tribun imajiner para suporter. Dari pinggir lapangan, nada serupa juga terdengar.

Pelatih Pantai Gading, Emerse Faé, mengingatkan bahwa absennya pendukung bisa merusak atmosfer pertandingan.

“Akan sangat disayangkan jika para pendukung tidak bisa hadir,” ujarnya, mengingat pengalaman turnamen lain di mana pembatasan serupa pernah terjadi.

Menurut Faé, jalan keluar seharusnya masih tersedia. Ia merujuk pada praktik sebelumnya, ketika suporter yang mampu menunjukkan bukti kepemilikan tiket tetap diizinkan masuk ke negara tuan rumah.

FIFA Pass, janji di tengah ketidakpastian

Menjawab kegelisahan soal visa, Presiden Trump sempat memperkenalkan FIFA Pass. Sebuah sistem yang menjanjikan prioritas penjadwalan visa bagi pembeli tiket Piala Dunia.

Pemerintah AS juga mengklaim telah menambah lebih dari 400 petugas konsuler di berbagai kedutaan untuk mempercepat proses.

FIFA menyambut inisiatif tersebut. Namun hingga kini, pertanyaan besar masih menggantung. Sejauh mana FIFA Pass mampu menembus kebijakan larangan perjalanan yang lebih luas?

Antara euforia dan awan gelap

Meski ribuan tiket dibatalkan, permintaan global terhadap Piala Dunia 2026 belum runtuh sepenuhnya.

Data Ticket Club menunjukkan minat publik dunia masih relatif kuat. Namun awan gelap jelas menggelayut.

Gabungan ketidakpastian politik, travel ban, protes publik, dan isu keamanan menjadi ujian serius bagi Amerika Serikat sebagai tuan rumah.

Piala Dunia bukan sekadar soal stadion dan jadwal pertandingan, melainkan juga tentang keterbukaan dan rasa aman bagi siapa pun yang ingin merayakan sepak bola.

Dengan laga-laga awal yang kian dekat Haiti melawan Skotlandia pada 13 Juni, Pantai Gading menghadapi Ekuador sehari kemudian.

Lalu Iran bertemu Selandia Baru pada 15 Juni, serta Senegal menantang Prancis pada 16 Juni. Ada jutaan penggemar di berbagai belahan dunia masih menunggu kepastian.

Apakah Piala Dunia 2026 benar-benar akan menjadi pesta sepak bola global, atau justru berubah menjadi turnamen yang disaksikan dari kejauhan?

Pos terkait