TURISIAN.com – Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar di kawasan Gedebage, Kota Bandung mampu memnghadirkan daya tarik baru wisata religi di Jawa Barat.
Bangunan yang berdiri di tengah hamparan danau buatan itu tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Tetapi juga menjadi ruang publik yang menyedot arus kunjungan warga dan pelancong.
Dari luar, struktur bangunan berlapis kaca dan baja tampak mencolok, memantulkan cahaya matahari dan lampu-lampu malam.
Di bagian dalam, ruang salat yang luas dan tertata rapi mempertegas kesan megah yang dirancang menyatu dengan suasana khusyuk.
Keindahan Masjid Al Jabbar, rupanya, paling optimal dinikmati pada dua rentang waktu. Pertama, menjelang dan sesudah salat Subuh.
BACA JUGA: Arus Wisatawan Ke Kota Bandung Meningkat, Pemkot Waspada Parkir
Pada saat itu, masjid tampil dramatis di bawah langit yang masih gelap, diselimuti cahaya lampu berwarna yang memantul di permukaan danau.
Ketika fajar menyingsing, lanskap di sekeliling masjid, dari air yang tenang hingga perbukitan di utara Bandung perlahan terbuka, menambah dimensi visual yang berbeda.
Smentara itu, waktu terbaik berikutnya adalah sore hari. Saat matahari belum sepenuhnya tenggelam, bangunan masjid tampak bersih dan tegas di bawah cahaya alami.
Peralihan menuju senja kemudian menghadirkan suasana yang kontras, ketika cahaya buatan kembali mengambil peran. Membingkai siluet kubah dan dinding kaca dalam nuansa yang lebih kontemplatif.
Di dua momen itulah yang mendorong arsitektur Masjid Raya Al Jabbar menunjukkan dua wajahnya sekaligus yakni terang dan gelap. Monumental dan hening. Sebuah pengalaman visual yang membuat banyak pengunjung memilih kembali datang. ***





