Kemenekraf Dorong Peran Arsitektur Sebagai Motor Ekonomi Kreatif Nasional

Arsitektur
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Rabu 7 Januari 2025. (Foto: Dok.Kemenekraf)

TURISIAN.com – Arsitektur mulai dibaca ulang oleh pemerintah sebagai penggerak baru ekonomi kreatif. Bukan lagi sekadar soal estetika bangunan atau fungsi ruang.

Melainkan simpul yang menghubungkan berbagai subsektor kreatif dalam satu ekosistem yang saling menopang.

Gagasan itu mengemuka dalam pertemuan antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di Jakarta, Rabu, 7 Januari.

Sementara itu Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyebut arsitektur berpotensi menjadi the new engine of growth bagi ekonomi kreatif nasional.

Menurut Irene, arsitektur memiliki posisi strategis karena beririsan langsung dengan banyak subsektor. Mulai dari desain komunikasi visual, interior, produk dan furnitur

Tak terkecuali juga seni rupa, hingga pengembangan intellectual property.

Ruang publik, kata dia, dapat menjadi medium kolaborasi lintas disiplin yang menghasilkan nilai tambah. Bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga sosial.

“Keterhubungan inilah yang memungkinkan ruang tidak hanya berfungsi. Tetapi juga berdampak bagi masyarakat,” ujar Irene dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi Kamis, 8 Januari.

Pemerintah, lanjut Irene, ingin mendorong kolaborasi yang lebih konkret. Bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang perjumpaan yang melahirkan kerja sama nyata.

“Arsitektur harus hadir sebagai bagian dari solusi, sekaligus penggerak ekosistem kreatif,” katanya.

Dalam konteks itu, pameran dan forum arsitektur ARCH:ID dinilai berpotensi menjadi simpul strategis.

BACA JUGA: Kemenekraf Dorong Industri Radio Bertransformasi Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif

Simulasi Desain

Ajang ini dirancang untuk mempertemukan arsitek, desainer, pemerintah, dan pelaku industri kreatif melalui pendekatan aplikatif.

Mulai dari sesi matchmaking, pameran gagasan ruang publik, hingga simulasi desain yang relevan dengan kebutuhan kota.

Sedangkan ARCH:ID 2026 akan digelar pada 23–26 April 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.

Mengusung tema Skema Sintesa, edisi keenam sejak pertama kali berlangsung pada 2020 ini menekankan pentingnya kolaborasi.

Termasuk, kesinambungan dalam praktik arsitektur, terutama dalam menghadapi tantangan perkotaan dan krisis ekologi.

Sementara Wakil Ketua IAI sekaligus Direktur Program ARCH:ID, Firman S. Herwanto, mengatakan industri arsitektur kini tidak lagi bergerak secara individual.

Peran arsitek berkembang menjadi fasilitator yang menjembatani berbagai kepentingan dalam ekosistem ekonomi kreatif.

Skema Sintesa lahir dari kesadaran bahwa persoalan arsitektur saling terhubung dan hanya bisa dijawab melalui kerja kolaboratif,” ujar Firman.

Ia juga menyoroti semakin menguatnya peran arsitek perempuan dalam lanskap arsitektur Indonesia.

Kehadiran mereka, kata Firman, kini semakin terlihat dan mendapatkan ruang dalam perumusan gagasan besar ARCH:ID 2026.

IAI berharap dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dapat memastikan keberlanjutan ARCH:ID ke depan.

Termasuk dalam penguatan jejaring internasional serta pengembangan diskursus kebijakan perkotaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. ***

Pos terkait