TURISIAN.com – Pelaksanaan Festival Mudik Balon Udara Wonosobo 2026 mulai bergulir di sejumlah desa di Kabupaten Wonosobo, Minggu 22 Maret 2026.
Tradisi tahunan pasca-Lebaran itu kembali digelar dengan pola sebaran lokasi. Menyasar berbagai kecamatan guna mengurai kepadatan pengunjung sekaligus menjaga denyut ekonomi lokal.
Sejak pagi, lapangan-lapangan desa dipadati warga. Penerbangan balon udara tradisional dimulai sekitar pukul 06.00 WIB.
Balon berukuran raksasa dengan motif warna-warni perlahan terangkat, menghiasi langit Wonosobo—menjadi tontonan sekaligus penanda keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Sejumlah titik yang menggelar festival pada hari pertama antara lain Gemblengan, Wonolelo, dan Lumajang di Kecamatan Watumalang.
Kegiatan serupa juga berlangsung di kawasan Tanjungsari Land, Sapuran, serta Lapangan Kembaran dan Butuh di Kecamatan Kalikajar.
Pemerataan kunjungan wisata
Sementara itu Wakil Kepala Kepolisian Resor Wonosobo, Agustinus David Putraningtyas, mengatakan penyelenggaraan festival di berbagai titik merupakan bagian dari strategi pemerataan kunjungan wisata.
“Ini bukan sekadar tontonan, melainkan tradisi yang hidup di masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, pelibatan masyarakat desa sebagai tuan rumah turut mendorong aktivitas ekonomi. Terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka lapak di sekitar lokasi acara.
Kepolisian, kata dia, tetap melakukan patroli dan pengawasan guna memastikan kegiatan berjalan sesuai aturan.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo menjadwalkan festival ini berlangsung pada 22–29 Maret 2026, dengan puluhan titik kegiatan tersebar di berbagai wilayah.
Pada saat yang sama, pengawasan terhadap aspek keselamatan diperketat. Balon udara yang diterbangkan wajib ditambatkan.
Bukan dilepas bebas, untuk mencegah potensi gangguan terhadap jalur penerbangan maupun risiko kebakaran.
Sedangkan Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Perhubungan Wonosobo, Agus Susanto, menambahkan pihaknya menyiapkan rekayasa lalu lintas dan kantong parkir di sejumlah titik rawan kepadatan.
Koordinasi lintas instansi dilakukan guna menjaga kelancaran arus kendaraan dan kenyamanan pengunjung.
Festival akan berlanjut ke sejumlah desa lain dalam beberapa hari ke depan, di antaranya Semberdalem, Karangluhur, Semayu, Simbang, Candiasan, hingga Lamuk.
Adapun puncak acara dijadwalkan berlangsung di Alun-Alun Wonosobo pada 29 Maret 2026, yang diperkirakan menyedot puluhan ribu pengunjung. ***





