TURISIAN.com – Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengeluarkan peringatan yang tak bisa dianggap sepele. Tubuh yang prima adalah syarat utama perjalanan yang selamat.
Pelaksana tugas Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DKI, Debi Intan Suri, menggarisbawahi pentingnya jeda sebelum roda mulai berputar.
Tidur enam hingga delapan jam sebelum berangkat, kata dia, bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan.
Di jalan, disiplin itu berlanjut—berhenti setiap tiga hingga empat jam menjadi keharusan. Terutama ketika kantuk mulai menyergap.
Imbauan itu terdengar sederhana, tetapi berangkat dari fakta yang berulang setiap musim mudik: kelelahan dan kurang istirahat kerap menjadi pemicu kecelakaan.
“Keselamatan adalah prioritas utama, karena keluarga menanti di kampung halaman,” ujar Debi.
Selain menjaga ritme istirahat, pemudik diminta tak abai pada hal-hal mendasar. Mengonsumsi makanan bergizi, cukup minum, tidak menggunakan ponsel saat berkendara serta mematuhi rambu lalu lintas.
Kombinasi kelalaian kecil kerap berujung pada risiko besar.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan bantalan pengaman tambahan. Sejak 13 hingga 30 Maret 2026, pos kesehatan disebar di 12 titik strategis.
Terminal Kampung Rambutan
Tujuh terminal bus di antaranya Terminal Kampung Rambutan, Pulo Gebang, hingga Kalideres. Tiga stasiun besar seperti Pasar Senen dan Gambir, serta dua pelabuhan di kawasan pesisir utara.
Di pos-pos itu, layanan kesehatan dasar hingga pemeriksaan kelaikan berkendara tersedia. Petugas memeriksa tekanan dan gula darah.
Termasuk, menilai kondisi fisik pengemudi, hingga melakukan skrining beragam risiko kesehatan.
Mulai dari kebiasaan merokok, penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, hingga gangguan paru dan kanker.
Tak hanya itu, pemudik juga bisa memanfaatkan layanan konseling, pengukuran berat dan tinggi badan, lingkar perut. Serta pemeriksaan narkoba, alkohol, dan fungsi pernapasan.
Semua disiapkan sebagai upaya menekan potensi risiko di jalan raya.
Mudik, pada akhirnya, bukan sekadar perjalanan pulang. Ia adalah ujian ketahanan tubuh, disiplin, dan kesadaran akan keselamatan.
Pemerintah mengingatkan, tetapi keputusan tetap berada di tangan pengemudi: berhenti sejenak, atau memaksa diri melaju. ***





