TURISIAN.com — Pelaku usaha sekaligus CEO Kagum Group, Henry Husada, menyatakan dukungannya terhadap langkah Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Utamanya dalam mendorong penguatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai penggerak ekonomi di Bandung.
“Ini tentu sangat baik ya. Saya mendukung penuh semangat Pak Wali Kota untuk melibatkan pelaku UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Bandung,” kata Henry saat dihubungi, Senin, 16 Maret 2026.
Menurut Henry, potensi pelaku UMKM di Kota Bandung sangat besar dan selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah.
Jika pelaku usaha kecil tersebut mampu dimobilisasi melalui berbagai program pemerintah kota, maka percepatan pertumbuhan ekonomi sangat mungkin terjadi.
Ia menilai, keterlibatan UMKM dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi akan memperluas kesempatan usaha sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Kalau UMKM diberi ruang dan didukung dengan program yang tepat, dampaknya bisa sangat luas.
Tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat bawah,” ujarnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kota tidak harus selalu bergantung pada industri besar.
Motor Penggerak Ekonomi
Menurutnya, usaha kecil dan menengah justru memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
“Industri pengolahan tidak harus selalu dalam skala besar. Usaha kecil di tingkat rumah tangga juga termasuk industri pengolahan. Seperti produksi makanan, pakaian, sepatu, tahu hingga berbagai produk kerajinan,” kata Farhan, Minggu, 15 Maret 2026.
Farhan memastikan Pemerintah Kota Bandung akan terus mendorong seluruh sektor usaha produktif melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dengan meningkatnya produksi yang didukung oleh pasar yang kuat, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya meningkat. Tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata.
Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan ekonomi di Kota Bandung.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang hanya bertumpu pada perusahaan besar berpotensi membuat keuntungan terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Sebaliknya, apabila pertumbuhan ekonomi didorong oleh pelaku usaha kecil dan menengah, maka manfaatnya akan lebih luas dirasakan oleh masyarakat.
Hal itu dinilai penting mengingat tingkat ketimpangan sosial di Kota Bandung masih relatif tinggi.
Berdasarkan perhitungan Gini Ratio dari Badan Pusat Statistik, Kota Bandung saat ini berada pada angka 0,42.
Angka tersebut memang menurun dari 0,44 pada tahun sebelumnya, namun masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 0,36.
“Artinya sebagian besar sumber daya ekonomi masih dikuasai oleh kelompok masyarakat yang relatif kecil. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” tuturnya.***





