TURISIAN.com – Pagi itu, udara di lembah Kabupaten Otonomi Rongshui Miao masih dipenuhi embun ketika bunyi genderang mulai terdengar dari kejauhan.
Suaranya ritmis, memantul di antara perbukitan karst yang hijau. Dari berbagai penjuru desa, orang-orang berdatangan.
Mereka mengenakan kostum tradisional paling meriah. Perak berkilau di dada, sulaman warna-warni di kain panjang, serta hiasan kepala yang bergemerincing setiap kali langkah kaki bergerak.
Hari itu adalah hari Festival “Pohui”, sebuah perayaan rakyat yang digelar setiap tahun di sekitar Festival Musim Semi.
Bagi masyarakat Miao di Rongshui, festival ini bukan sekadar pesta. Ia adalah pertemuan antara tradisi, doa, dan kegembiraan hidup.

Di halaman terbuka desa, para perempuan Miao berbaris mengenakan pakaian adat yang memancarkan kilau logam perak.
Sementara para lelaki memainkan alat musik tradisional, meniup seruling bambu dan menabuh genderang besar.
Aroma makanan khas desa dari daging asap hingga kue beras menguar dari dapur-dapur sementara yang didirikan di tepi lapangan.
Anak-anak berlarian di antara kerumunan, sementara para tetua duduk di bangku kayu, menyaksikan festival yang diwariskan turun-temurun itu.

Hiasan Perak
“Pohui adalah waktu untuk berkumpul,” kata seorang warga desa, sambil merapikan hiasan perak di pakaian putrinya.
“Kami berdoa agar tahun ini panen baik, keluarga sehat, dan desa tetap makmur,” sambungnya.
Di tengah lapangan, prosesi doa dimulai. Warga membawa persembahan sederhana. Ada beras, buah, dan minuman tradisional sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan.
Sementara itu doa-doa dilantunkan dengan khidmat, sebelum akhirnya suasana berubah menjadi lebih riang.
Musik kembali dimainkan, tarian tradisional Miao pun dimulai.

Para penari membentuk lingkaran besar. Gerakan mereka lembut namun penuh energi. Seperti mengikuti irama alam yang mengelilingi desa.
Gelak tawa sesekali terdengar dari penonton yang ikut larut dalam suasana.
Festival Pohui kini tidak lagi hanya menjadi perayaan lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah Rongshui mulai menjadikannya bagian penting dari pengembangan pariwisata budaya.
Langkah itu tidak lepas dari dukungan pendanaan Provinsi Guangdong melalui program kerja sama pembangunan antardaerah yang dikenal sebagai inisiatif “pasangan”.

Proyek Pengembangan Desa
Melalui skema tersebut, berbagai proyek pengembangan desa, infrastruktur wisata, hingga pelestarian budaya tradisional mulai digalakkan.
Pemerintah setempat melihat kekayaan budaya etnis Miao sebagai aset besar yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Festival Pohui, dengan segala tradisi dan keindahannya, menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan Rongshui kepada dunia luar.
Kini, setiap musim festival, tidak hanya warga desa yang datang. Wisatawan dari berbagai kota mulai berdatangan. Tertarik melihat langsung warna-warni kostum Miao dan merasakan atmosfer perayaan tradisional yang masih terjaga.
Bagi masyarakat Rongshui, perubahan ini membawa harapan baru.

Banyak keluarga mulai membuka homestay, menjual kerajinan tangan, atau menawarkan kuliner khas desa kepada para pengunjung.
Revitalisasi pedesaan yang selama ini menjadi wacana, perlahan mulai terasa nyata.
Namun bagi warga desa, esensi festival tetap sama seperti dulu: berkumpul, berdoa, dan merayakan kehidupan.
Ketika matahari mulai condong ke barat, musik masih terus dimainkan. Anak-anak menari tanpa lelah, para orang tua tersenyum menyaksikan.
Di tengah warna kostum, bunyi perak yang beradu, dan aroma makanan desa, Festival Pohui kembali membuktikan satu hal sederhana. Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga jembatan menuju masa depan. ***





