Pariwisata Berkelanjutan Jadi Fondasi Daya Saing Global Indonesia

Pariwisata Berkelanjutan
Seorang wisatawan melintas diantara pemohonan. Kementerian pariwisata saat ini sedang menggalakan pariwisata berkelanjutan. (Foto: Dok.Kemenpar)

TURISIAN.com — Pemerintah menempatkan pariwisata berkelanjutan sebagai pijakan utama dalam menjaga daya saing Indonesia di tengah perubahan lanskap industri perjalanan dunia.

Pergeseran preferensi wisatawan global yang semakin peduli pada lingkungan, budaya, dan dampak sosial ekonomi dinilai menuntut strategi pembangunan yang lebih adaptif dan berjangka panjang.

Sementara itu Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan, transformasi menuju pariwisata berkelanjutan kini bukan lagi pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan strategis.

Menurut dia, arah tersebut selaras dengan agenda pembangunan nasional sekaligus dinamika global yang menempatkan keberlanjutan sebagai indikator utama kualitas destinasi.

“Kepariwisataan berkelanjutan menjadi fondasi pembangunan pariwisata Indonesia ke depan,” ujar Ni Luh.

Penegasan tersebut disampaikan Ni Luh saat membuka Forum STDev Circle bertema Gerakan dan Aksi Kepariwisataan Berkelanjutan yang digelar secara daring, Rabu, 25 Februari 2026.

Ia menilai perubahan perilaku wisatawan menjadi sinyal kuat bagi pemerintah dan pelaku industri.

Wisatawan kini tidak hanya mempertimbangkan keindahan destinasi. Tetapi juga keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya lokal. Serta manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sebelum menentukan tujuan perjalanan.

Untuk merespons perubahan tersebut, Kementerian Pariwisata mendorong lima program unggulan. Yakni, peningkatan keselamatan berwisata, penguatan desa wisata, pengembangan pariwisata berkualitas, Event by Indonesia, serta implementasi Tourism 5.0.

Wisatawan Modern

Kelima program ini dirancang membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, inklusif, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pengalaman wisatawan modern.

Sedangkan kinerja sektor pariwisata sepanjang 2025 menjadi indikator awal arah kebijakan tersebut.

Kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 15,39 juta orang, tumbuh 10,80 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara perjalanan wisatawan nusantara menembus 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,55 persen. Pemerintah melihat capaian ini sebagai sinyal pulihnya kepercayaan pasar terhadap pariwisata Indonesia.

Pengakuan internasional turut memperkuat posisi Indonesia di panggung global. Desa Wisata Pemuteran dan Desa Wisata Osing Kemiren memperoleh penghargaan dari UN Tourism.

Di sektor akomodasi, sebanyak 33 hotel dan resor di Indonesia meraih pengakuan MICHELIN Keys, menandai peningkatan standar layanan dan kualitas pengalaman menginap.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan yang lebih berorientasi pada kualitas dibanding sekadar kuantitas.

Forum STDev Circle

Target kunjungan wisatawan mancanegara diproyeksikan berada pada kisaran 16 hingga 17,6 juta kunjungan.

Namun, Ni Luh menekankan target tersebut tidak dapat dicapai pemerintah semata.

Kolaborasi lintas sektor menjadi syarat utama. Forum STDev Circle dinilai strategis karena mempertemukan pembuat kebijakan. Termasuk, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga generasi muda dalam satu ruang dialog.

Forum ini membahas sejumlah isu kunci, mulai dari penguatan skema green financing. Kemudian, pemanfaatan inovasi teknologi, gerakan berbasis komunitas, hingga kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi.

Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata, Frans Teguh, memoderatori diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber.

Diantaranya Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu, Guru Besar Universitas Pelita Harapan Diena M. Lemy.

Lalu, Co-founder dan COO Atourin Indonesia Reza Permadi, Manager Operasional DTW Jatiluwih Ketut Purna, serta Leader World Cleanup Day Andy Bahari.

Di akhir sambutannya, Ni Luh berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi konseptual, melainkan melahirkan kolaborasi konkret.

Dimana nantinya  mampu memperkuat ekosistem pariwisata nasional secara inklusif dan berkelanjutan.

“Pertumbuhan pariwisata harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. ***

 

Pos terkait