Ngabuburit Sunyi di Perpustakaan Jakarta Timur, Merasakan Ritme Ramadan

Perpustakaan
Ilustrasi membaca di perpusataan sambil ngabuburit ramadan. (Generated by AI)

TURISIAN.com – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana lantai dua Kantor Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) Jakarta Timur tidak dipenuhi hiruk-pikuk percakapan.

Yang terdengar justru bunyi lembaran buku dibalik perlahan dan bisik pelan anak-anak yang tenggelam dalam cerita dongeng.

Di tengah ritme Ramadan yang cenderung ramai di ruang publik, perpustakaan ini menawarkan pilihan berbeda: ngabuburit dalam keheningan.

Bagi sebagian warga, perpustakaan kini bukan sekadar tempat meminjam buku. Selama bulan Ramadan, ruang ini berubah menjadi alternatif aktivitas yang lebih tenang dan produktif.

“Bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang alternatif yang positif bagi warga untuk mengisi waktu selama Ramadan,” ujar Kepala Seksi Perpustakaan Sudin Pusip Jakarta Timur, Fauziyah, Rabu, 25 Februari 2026.

Menurut dia, ruang baca ini menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menunggu waktu berbuka tanpa harus menghabiskan waktu di pusat keramaian.

Sementara itu ruang belajar yang kondusif serta fasilitas ramah anak membuat pengunjung betah berlama-lama.

Alih-alih menghabiskan waktu tanpa aktivitas jelas di luar rumah, kata Fauziyah, warga dapat memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat ngabuburit yang lebih bermanfaat.

Selama Ramadan, jumlah pengunjung—terutama anak usia sekolah—tetap tinggi.

Sedangkan layanan perpustakaan dibuka pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Jam operasional ini mengacu pada Keputusan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0012 Tahun 2026. Yakni, tentang Jam Layanan Perpustakaan Umum selama Ramadan 1447 Hijriah.

BACA JUGA: Monas Tetap Dibuka Selama Ramadan, Waktu Kunjungan Disesuaikan

Koleksi Dongeng

Di lantai dua, anak-anak memenuhi ruang baca dengan koleksi dongeng dan bacaan ringan. Sementara lantai tiga menjadi ruang bagi remaja dan orang dewasa yang mencari bacaan lebih beragam.

Pembagian ruang berdasarkan usia itu membuat suasana tetap nyaman bagi seluruh pengunjung.

Perpustakaan tetap beroperasi seperti biasa, termasuk pada akhir pekan, kecuali saat hari libur nasional. Setiap hari, rata-rata 72 hingga 85 orang datang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Sebagian besar memilih membaca sambil menunggu azan magrib. Aktivitas sederhana itu, bagi mereka, membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.

Zahra, 28 tahun, salah satunya. Ia mengaku sengaja datang ke perpustakaan untuk mengisi waktu sebelum berbuka.

“Kalau puasa begini enak dipakai membaca atau mengerjakan tugas. Tidak capek harus ke mana-mana,” ujarnya.

Di tengah budaya ngabuburit yang identik dengan keramaian kuliner dan pusat perbelanjaan, pusat bacaan Jakarta Timur justru menghadirkan alternatif yang sunyi. Namun, tetap hidup melalui halaman-halaman buku yang terus dibaca menjelang senja Ramadan. **

Pos terkait