Peralihan kendali operasional Kereta Cepat Whoosh Dipercepat, Ini Tujuannya

kendali operasional Kereta
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) melintas di antara kepadatan jalanan di Jakarta. (Foto: Dok.PT KAI)

TURISIAN.com – Peralihan kendali operasional Kereta Cepat Whoosh bergerak lebih cepat dari jadwal. Perlahan namun pasti, peran tenaga asing menyusut.

Kini, digantikan sumber daya manusia Indonesia yang menguasai sebagian besar fungsi layanan kereta berkecepatan tinggi pertama di Asia Tenggara itu.

Hingga awal tahun ini, proses handover operasional telah mencapai sekitar 80 persen.

Sebanyak 574 personel Indonesia menjalankan berbagai fungsi strategis, mulai dari pengoperasian perjalanan hingga perawatan infrastruktur.

Target berikutnya jelas: seluruh operasional Whoosh sepenuhnya ditangani tenaga lokal pada tahun ini.

Bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Group, fase ini bukan sekadar pengalihan tugas teknis.

Ini merupakan ujian kapasitas nasional dalam mengelola teknologi transportasi modern yang menuntut disiplin keselamatan tinggi, presisi operasional, serta standar layanan kelas dunia.

Sementara itu komposisi personel menunjukkan kompleksitas sistem yang kini berada di tangan operator domestik.

Sebanyak 144 petugas menjalankan fungsi operasional, termasuk 66 masinis dan 31 pengendali perjalanan di pusat kendali operasi yang memantau pergerakan kereta secara real time.

Pada sektor perawatan sarana, 80 teknisi memastikan keandalan rangkaian kereta setiap hari.

Adapun 350 personel lainnya bertanggung jawab atas kesiapan jalur, jembatan, terowongan, sistem kelistrikan, persinyalan, hingga komunikasi. Unsur vital yang menentukan keselamatan perjalanan.

KAI Group

Dalam masa transisi, KAI Group menempatkan 191 pegawai perbantuan untuk menjaga kesinambungan standar operasional.

Mereka terdiri atas 154 pegawai KAI induk dan 37 pegawai KAI Commuter. Penugasan ini dirancang bukan hanya untuk mengisi kebutuhan operasional, tetapi juga mempercepat alih kompetensi kepada tenaga lokal.

Percepatan transfer pengetahuan terlihat jelas pada proses pelatihan masinis. Jika pengoperasian kereta cepat di Tiongkok memerlukan waktu hingga tiga tahun untuk mencapai kemandirian, proses serupa pada Whoosh diselesaikan dalam sekitar satu setengah tahun.

Sedangkan faktor pengalaman menjadi kunci. Para masinis merupakan pengemudi kereta KAI dengan jam terbang minimal 3.000 jam atau setara 100 ribu kilometer perjalanan.

Sementara Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut capaian ini sebagai indikator kematangan SDM nasional dalam mengelola layanan berteknologi tinggi.

“Sebanyak 574 SDM Indonesia kini mengelola 80 persen operasional Whoosh. Ini menunjukkan kompetensi dan disiplin tenaga nasional mampu memenuhi tuntutan layanan kereta cepat dengan standar keselamatan tinggi,” ujarnya.

Menurut Anne, keberhasilan tersebut merupakan bagian dari transformasi panjang KAI Group menuju operator transportasi berstandar global.

Struktur organisasi yang semakin solid dan penguasaan teknologi yang meningkat dinilai menjadi fondasi bagi operasional yang profesional dan berkelanjutan.

Capaian 80 persen kemandirian operasional bukan sekadar angka statistik. Ia menjadi penanda perubahan arah industri perkeretaapian nasional.

Mulai dari pengguna teknologi menjadi pengelola. Jika target tercapai, tahun ini akan menjadi tonggak baru. Ketika kereta cepat pertama di Asia Tenggara sepenuhnya dijalankan oleh tenaga Indonesia. ***

Pos terkait