TURISIAN.com – Ribuan orang tumpah ruah di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur, sejak pagi Selasa itu.
Dentum tambur dan simbal bersahut-sahutan dari Plaza Kori Agung, mengiringi lompatan barongsai yang meliuk di atas tiang-tiang tinggi.
Libur Tahun Baru Imlek 2026 menjelma panggung keluarga dan TMII seperti tahu betul bagaimana memanggil mereka datang.
Di antara kerumunan, Dzulhidwanda Rusadi, 35 tahun, berdiri sambil menggenggam tangan dua anaknya.
Ia berangkat dari Karawang pukul tujuh pagi, sempat singgah di Bekasi, lalu tiba sebelum matahari meninggi.
“Kalau datang pagi, anak-anak masih segar. Bisa lebih lama keliling,” katanya.
Bagi Rusadi, TMII bukan semata arena hiburan. Ia menyebut kawasan ini menawarkan paket lengkap tontonan budaya sekaligus ruang belajar terbuka.
Seusai menyaksikan barongsai, ia berencana mengajak anak-anaknya ke area wisata burung.
“Biar mereka kenal satwa langsung, tidak cuma dari buku,” ujarnya.
Pilihan Rusadi bukan kebetulan. Konsep wisata terpadu membuat keluarga tak perlu berpindah lokasi ketika anak mulai bosan.
Satu sudut menawarkan pertunjukan seni, sudut lain menyajikan wahana edukatif.
Pengalaman Berbeda
Ketika lelah di satu titik, mereka cukup berjalan beberapa ratus meter untuk menemukan pengalaman berbeda.
Hamdan, 41 tahun, datang dengan alasan serupa. Ia ingin anaknya melihat kemeriahan Imlek secara langsung warna merah yang mendominasi.
Ada atraksi barongsai yang lincah, hingga sorak penonton setiap kali kepala singa meloncat tinggi.
“Ini pengalaman. Biar mereka tahu seperti apa suasana Imlek,” katanya.
Sepanjang 14–17 Februari 2026, pengelola menargetkan 50 ribu pengunjung dalam rangkaian Pekan Imlek.
Selain barongsai, panggung budaya diisi pertunjukan wushu dance dan Bian Lian. Seni perubahan topeng khas Tiongkok yang memancing decak kagum.
Sementara itu Festival Pecinan juga diramaikan bazar kuliner bertema Imlek. Seperti bakmi, gohyong, dan hidangan lain yang akrab dengan perayaan tahun baru lunar.
Pengelola memastikan seluruh makanan yang dijual telah melalui proses seleksi dan dinyatakan halal.
Di sela aroma masakan dan riuh tepuk tangan, TMII menegaskan posisinya sebagai ruang temu lintas budaya. Tempat libur tak hanya berarti bersenang-senang, melainkan juga belajar mengenal tradisi.
Di tengah hiruk-pikuk itu, wajah anak-anak tampak paling jujur merekam kegembiraan.
Imlek di TMII, setidaknya bagi keluarga-keluarga ini, bukan sekadar perayaan. Ia menjadi cara sederhana memperkenalkan budaya, merawat rasa ingin tahu, dan mengikat kenangan bersama. ***





