Wali Kota Farhan Akui Lesunya Pariwisata Jadi Lampu Kuning Perekonomian Kota Bandung

Lesunya Pariwisata
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menjadi Keynote Speaker Transformation MVB Indonesia Sustainability Forum yang digelar di Artotel Suites Aquila Bandung, Kamis 12 Februari 2026. (Foto: Dok.Humas Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Lesunya pariwisata Kota Bandung pada awal 2025 sempat menjadi lampu kuning bagi perekonomian kota kembang.

Tingkat hunian hotel terjun bebas, restoran kehilangan pelanggan, dan denyut industri penunjang pariwisata ikut melemah.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut situasi itu sebagai fase terberat dalam beberapa tahun terakhir.

Farhan menuturkan, pemulihan mulai terasa sejak arus wisata kembali bergerak selepas Lebaran, 5 April 2025.

Momentum ini menjadi titik balik bagi industri perhotelan, kuliner, dan sektor pendukung lainnya yang sebelumnya terpukul oleh kebijakan pengetatan anggaran pemerintah pusat dan daerah.

Kebijakan itu menghentikan banyak kegiatan perjalanan dinas dan agenda MICE, yang selama ini menjadi penopang utama okupansi hotel di Bandung.

“Okupansi hotel yang biasanya bertahan di kisaran 50–60 persen sempat jatuh ke sekitar 30 persen selama hampir tiga bulan. Potensi industri pariwisata kita praktis tersisa sepertiganya,” kata Farhan saat menjadi pembicara kunci Transformation MVB Indonesia Sustainability Forum di Artotel Suites Aquila Bandung, Kamis, 12 Februari 2026.

Bandung, dengan populasi sekitar 2,6 juta jiwa, adalah kota dengan mobilitas manusia yang tinggi.

Sepanjang 2025, pergerakan orang keluar-masuk Bandung diperkirakan mencapai 12 juta perjalanan, dengan catatan lalu lintas penerbangan sekitar 24 juta pergerakan.

Bagi Farhan, mobilitas inilah yang menjadi urat nadi pariwisata kota. Ketika arus orang tersendat, ekonomi ikut tercekik.

Pemerintah Kota Bandung lalu memilih strategi sederhana: menghidupkan kembali pergerakan manusia.

Sepanjang 2025, kota ini menjadi tuan rumah sekitar 260 agenda, mulai dari acara lokal hingga event berskala nasional.

Pemangkasan Pajak Hiburan

Berbagai kemudahan diberikan kepada promotor, termasuk insentif berupa pemangkasan pajak hiburan PB1 hingga 50 persen untuk acara yang dinilai berdampak besar pada arus wisatawan.

Euforia kemenangan Persib Bandung juga dimanfaatkan sebagai pengungkit ekonomi. Perayaan yang berlangsung hampir tiga pekan memancing gelombang wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Hotel kembali terisi, restoran ramai, dan pusat-pusat belanja menggeliat.

“Orang datang, menginap, makan, belanja. Ekonomi bergerak di tingkat paling dasar,” ujar Farhan.

Magnet lain datang dari event olahraga. Ajang Pocari Sweat Run, misalnya, menjadi penarik wisatawan dengan daya beli relatif tinggi.

Data mobilitas Telkomsel mencatat, sekitar 10 persen dari hampir 19 ribu peserta ajang lari itu berasal dari Jakarta Selatan—segmen wisatawan urban yang dikenal konsumtif.

Pemerintah kota bahkan mendorong penyelenggara memperpanjang durasi acara menjadi dua hari untuk memperpanjang lama tinggal peserta sekaligus meredam kemacetan.

Bagi Farhan, kebangkitan pariwisata bukan sekadar soal ramainya kota. Kerumunan wisatawan, menurut dia, akan menciptakan kebiasaan berkunjung.

Dari kebiasaan itulah lahir kepercayaan investor. “Pariwisata menciptakan tradisi, tradisi melahirkan keramaian, dan keramaian pada akhirnya memanggil investasi,” katanya.

Ia optimistis, dengan strategi menggenjot mobilitas dan event, ekonomi Bandung bisa mengatasi lesunya pariwisata. Pemerintah kota mematok proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,7 hingga 6 persen.

Angka yang ambisius, tapi bagi Farhan masih masuk akal jika mesin pariwisata terus dipaksa bekerja. ***

Pos terkait