Potensi Cagar Budaya Banyuwangi Belum Dikelola Dengan Baik, Komisi X Tegaskan Ini

cagar budaya Banyuwangi
Pagelaran kolosal Gandrung Sewu yang melibatkan 1.400 penari di Banyuwangi, beberapa waktu lalu. (Instagram/@banyuwangi_kab)

TURISIAN.com – Potensi cagar budaya Banyuwangi dinilai belum sepenuhnya mendapat panggung yang layak. Untuk itu pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan harus memasifkan promosi.

Hal ini agar kekayaan sejarah di ujung timur Jawa itu tak hanya dikenal di tingkat lokal. Tetapi juga menembus panggung nasional dan internasional.

Penegasan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih di sela kunjungan kerja Komisi X DPR RI di Banyuwangi, Kamis 12 Februari 2026.

Menurut Fikri, keberhasilan memajukan cagar budaya tak cukup mengandalkan narasi sejarah yang kuat.

Publikasi yang masif dan pengelolaan yang menyinergikan riset, kepentingan bisnis, serta kebijakan pemerintah menjadi kunci.

“Jika dikelola serius dan kolaboratif, nilai ilmiah, ekonomi, dan kebangsaan cagar budaya Banyuwangi bisa segera mendapat pengakuan dunia,” ujarnya

Ia menilai banyak potensi Banyuwangi yang masih tenggelam karena minim eksposur. Tanpa promosi yang agresif, dukungan anggaran dan program afirmatif dari pemerintah pusat pun sulit mengalir.

“Orang harus tahu bahwa Banyuwangi menyimpan pusat cagar budaya yang luar biasa,” kata Fikri.

Banyuwangi, menurut Fikri, menyimpan kepingan penting sejarah Nusantara. Dari jejak Kerajaan Blambangan hingga situs-situs bernilai strategis yang merekam lintasan peradaban di kawasan timur Jawa.

Namun kekayaan itu, katanya, masih asing bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Padahal, situs-situs tersebut bukan sekadar warisan lokal, melainkan bagian dari identitas nasional yang menuntut perawatan bersama.

Fikri juga menekankan peran dunia usaha dalam menghidupkan cagar budaya sebagai destinasi wisata berbasis riset dan edukasi.

Tanpa sentuhan bisnis, situs sejarah akan sulit berkembang. Sebaliknya, tanpa fondasi riset dan regulasi yang kokoh, pengembangan berisiko kehilangan arah.

Ia mendorong model kolaborasi pentahelix melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan mediasebagai kerangka kerja bersama.

“Sinergi ini penting agar pelestarian cagar budaya tidak berhenti sebagai slogan, melainkan bergerak menjadi kebijakan yang berdampak,” katanya. ***

Pos terkait