Kunjungan Wisatawan ke Taman Nasional Kutai Kaltim Naik Tajam, Pergeseran Selera Global

Taman Nasional Kutai
Turis asing sedang mendengarkan penjelasan pemandu Taman Nasional Kutai terkait ragam flora yang ada. (Instagram/@btn_kutai)

TURISIAN.com – Di jantung hutan Kalimantan Timur, Taman Nasional Kutai (TNK)  pelan-pelan menjadi magnet baru bagi pelancong mancanegara.

Sepanjang 2025, kawasan konservasi ini mencatat kunjungan 658 wisatawan asing. Angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Tren itu menandai pergeseran selera turis global yang kian akrab dengan wisata alam dan keberlanjutan.

“Wisatawan sekarang lebih suka wisata alam, terutama kawasan hutan lindung. Turis asing semakin sadar betapa pentingnya menjaga alam,” kata Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Kutai, Kristina Nainggolan, di Sangatta, Rabu, 21 Januari 2026.

Data Balai Taman Nasional Kutai menunjukkan kenaikan bertahap sejak 2023. Pada tahun itu, jumlah wisatawan mancanegara tercatat 475 orang.

Setahun kemudian naik tipis menjadi 482 orang, sebelum melonjak tajam pada 2025. Kenaikan ini tak lepas dari daya tarik utama taman nasional tersebut orang utan.

Satwa endemik Kalimantan itu masih menjadi magnet paling kuat bagi wisatawan asing.

“Sebagian besar turis asing datang karena ingin melihat orang utan langsung di alam liar,” ujar Kristina.

Sekitar 90 persen pengunjung mancanegara memilih kawasan Prevab (habitat alami orang utan) sebagai tujuan utama.

Akses ke wilayah ini dibuka melalui paket wisata terbatas, dengan pengawasan ketat.

Pembatasan bukan tanpa alasan. Pengelola taman nasional menerapkan aturan kunjungan yang ketat, mulai dari kuota pengunjung hingga durasi jelajah.

Tujuannya satu yakni memastikan aktivitas manusia tidak mengganggu satwa dan ekosistem hutan hujan yang rapuh.

BACA JUGA: Hudoq, Tarian Mistis Penuh Makna Khas Suku Dayak Kalimantan Timur

Kontribusi Ekonomi

“Kami selalu mengutamakan perlindungan alam. Aktivitas wisata kami atur agar tidak mengganggu satwa dan tempat tinggalnya,” kata Kristina.

Di balik upaya konservasi, kunjungan wisata juga membawa kontribusi ekonomi. Sepanjang 2025, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari TNK mencapai Rp609 juta.

Sebagian besar pendapatan itu berasal dari tiket wisata alam serta kegiatan penelitian yang melibatkan peneliti dalam dan luar negeri.

Bagi pengelola, Taman Nasional Kutai kini tak lagi sekadar destinasi wisata. Kawasan ini berkembang menjadi ruang belajar tentang konservasi, ekologi, dan masa depan hutan tropis.

“Taman Nasional Kutai bukan hanya tempat berwisata, tetapi juga pusat pendidikan lingkungan kelas dunia,” ujar Kristina. ***

Pos terkait