TURISIAN.com – Pariwisata Indonesia, menurut Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, tak bisa lagi dipahami sebatas deretan destinasi populer.
Ia adalah sebuah ekosistem luas yang bertaut antara bentang alam, keragaman budaya, kondisi sosial, serta denyut ekonomi masyarakatnya.
Karena itu, pemerintah memilih menempatkan pariwisata berkelanjutan sebagai poros utama kebijakan.
Berbicara dalam forum Leaders’ Meeting: Beyond Destinations—Reimagining Indonesia’s Tourism Future di Jakarta, Selasa, 20 Januari 20256 Widiyanti menekankan bahwa pembangunan pariwisata ke depan harus menjaga keseimbangan antara lingkungan, sosial, budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Tujuannya bukan sekadar mengerek angka kunjungan wisatawan, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan peluang yang merata.
Di hadapan peserta yang terdiri atas perwakilan Harvard Indonesian Student Association (HISA) dan peminat studi Indonesia, Widiyanti memaparkan kekayaan pariwisata Tanah Air.
Indonesia kini memiliki 12 UNESCO Global Geopark, 10 situs warisan dunia, serta 16 warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO.
Di tingkat akar rumput, lebih dari 6.100 desa wisata telah tumbuh, lima di antaranya masuk daftar desa wisata terbaik dunia versi UN Tourism.
Sementara itu capaian sektor pariwisata juga menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga November 2025, Indonesia mencatat kunjungan 13,98 juta wisatawan mancanegara.
BACA JUGA: Kemenpar Dorong BINA Indonesia Great Sale 2025 Jadi Penggerak Ekonomi
Persaingan Regional
Angka ini berkontribusi terhadap devisa sektor pariwisata yang mencapai 13,82 miliar dolar Amerika Serikat. Hingga Agustus 2025, sektor ini menyerap sekitar 25,91 juta tenaga kerja.
Namun, Widiyanti tak menutup mata terhadap tantangan. Persaingan regional kian ketat, terutama dengan Thailand yang telah lama memoles citra pariwisatanya melalui diplomasi kuliner global.
Di dalam negeri, pekerjaan rumah masih menumpuk. Mulai dari konektivitas antardaerah, kebijakan visa, pengelolaan lingkungan dan keamanan. Hingga manajemen pengunjung serta ketersediaan tenaga kerja pariwisata yang tersertifikasi.
“Ke depan, pariwisata Indonesia harus bergerak melampaui destinasi. Tidak hanya sekedar deretan destinasi populer,” kata Widiyanti.
“Ia harus menjadi mesin pembangunan yang berkelanjutan dan adil,” pungkasnya. ***





