TURISIAN.com – Di sebuah bukit di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, sejarah berlapis-lapis tersimpan rapi.
Museum Situs Pasir Angin menjadi saksi bisu perjalanan panjang kebudayaan manusia, dari masa prasejarah hingga jejak kolonial abad ke-20.
Bangunan museum yang berdiri tak jauh dari area ekskavasi ini menyimpan beragam artefak hasil penggalian arkeologis.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang berkunjung belum lama ini menyebut Pasir Angin sebagai salah satu situs penting karena merekam berbagai fase kebudayaan dalam satu kawasan.
“Di situs ini kita bisa melihat lapisan kebudayaan yang lengkap, mulai dari era Neolitik, era Klasik, hingga masa Kolonial,” ujar Fadli Zon.
Berbagai temuan seperti arca, peralatan batu, hingga artefak logam dipamerkan lengkap dengan keterangan yang memudahkan pengunjung memahami konteks zamannya.
BACA JUGA: Ini Alasan Naiknya Harga Tiket Museum Nasional Indonesia, Berapa Besarannya?
Topeng Emas
Salah satu artefak paling berharga dari Pasir Angin adalah topeng emas, yang kini disimpan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Cibinong.
Benda ini menjadi petunjuk penting untuk membaca kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan tersebut.
“Topeng emas ini memberikan gambaran tentang aspek sosial dan budaya masyarakat yang pernah hidup di sekitar Pasir Angin,” kata Fadli.
Tak hanya menyimpan jejak ribuan tahun silam, Pasir Angin juga mencatat sejarah yang lebih muda.
Sementara itu di kawasan yang sama berdiri Tugu Jepang, penanda peristiwa pada abad ke-20 ketika wilayah ini menjadi titik strategis dalam pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu.
Sedangkan dari bukit tertinggi di kawasan itu, pergerakan pasukan dapat dipantau dengan jelas.
“Dulu, vegetasi belum serimbun sekarang. Dari titik ini, seluruh area dapat diawasi, sehingga Pasir Angin menjadi lokasi penting dalam dinamika pertempuran,” ujar Fadli.
Sementara penelitian arkeologis di Situs Pasir Angin dilakukan secara intensif pada 1970 hingga 1975.
Hasilnya, para peneliti menemukan beragam artefak yang terbuat dari batu, besi, perunggu, tanah liat, obsidian, kaca, hingga gerabah.
Setahun kemudian, pada 1976, dibangun sebuah bangunan sederhana untuk menyimpan temuan-temuan tersebut.
Bangunan inilah yang kelak berkembang menjadi Museum Situs Pasir Angin.
Kini, museum tersebut diharapkan tak sekadar menjadi ruang penyimpanan benda bersejarah.
Begitu pun pemerintah juga berencana melakukan revitalisasi dan melengkapi data temuan.
Hal ini agar situs ini semakin relevan sebagai ruang belajar sejarah, terutama bagi generasi muda.
“Ini adalah situs bersejarah yang penting. Ke depan, kita ingin Pasir Angin lebih hidup, lebih informatif, dan menjadi tempat belajar sejarah yang menarik,” ujar Fadli Zon menutup kunjungannya. ***





