TURISIAN.com – Udara dingin menggigit kulit dekat sungai Songhua di Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, China timur laut. Termometer berada jauh di bawah titik beku. Namun Sungai Songhua justru dipenuhi hiruk-pikuk manusia.
Sejak Jumat, 9 Januari 2026, hamparan es tebal yang membekukan sungai itu berubah menjadi arena pesta musim dingin.
Arena yang riuh oleh tawa, sorak-sorai, dan bunyi dayung yang beradu dengan permukaan es.
Sementara itu di atas sungai yang membeku, puluhan orang menaiki perahu naga. Sebuah ikon tradisi Tiongkok yang biasanya meluncur di air, kini melaju di atas es.
Perahu-perahu berwarna cerah itu didorong dan dikayuh oleh para peserta kompetisi, menciptakan pemandangan unik sekaligus memikat.
Ada lomba perahu naga di permukaan sungai beku. Setiap kali sebuah perahu meluncur lebih cepat, sorak penonton pun membahana, mengalahkan desir angin musim dingin yang menusuk.
Sedangkan bagi warga Harbin, pemandangan ini bukan sekadar atraksi, melainkan penanda resmi dimulainya musim wisata dingin.
Kota yang dijuluki “Kota Es” ini memang selalu hidup ketika salju dan es datang.
Sungai Songhua, yang di musim panas menjadi nadi kehidupan dan transportasi air. Pada musim dingin berubah menjadi panggung raksasa bagi berbagai hiburan bertema es dan salju.
Anak-anak meluncur dengan kereta salju, pasangan muda berfoto dengan latar hamparan putih yang berkilau.
BACA JUGA: Festival Bunga Premtis Tahunan Dimulai di Perbukitan Yongtai Fujian China
Momen Langka
Sementara wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara menyusuri sungai beku itu sambil mengabadikan momen langka.
Di beberapa titik, pedagang lokal menjajakan minuman hangat dan camilan khas musim dingin, menambah aroma manis di udara yang dingin.
Kompetisi perahu naga di atas es menjadi magnet utama. Tradisi yang biasanya digelar untuk merayakan kebersamaan dan kekuatan tim kini diberi tafsir baru, yakni menaklukkan dinginnya alam dengan semangat kolektif.
Dayung-dayung yang menghantam es seolah menyampaikan pesan bahwa bahkan di tengah musim paling keras sekalipun, manusia tetap bisa mencipta keriangan.
Bagi wisatawan, pengalaman ini terasa seperti memasuki dunia lain. Di mana sungai menjadi daratan, dan perahu meluncur di atas kristal es.
“Ini pertama kalinya saya melihat perahu naga berlomba di atas es,” ujar seorang pengunjung sambil membungkuskan syal lebih rapat di lehernya.
“Rasanya seperti menonton tradisi kuno bertemu dengan keajaiban musim dingin.”
Sungai Songhua pun, untuk sementara, tak lagi sekadar bentang alam. Ia menjelma ruang pertemuan antara warga lokal dan para pelancong.
Antara tradisi dan inovasi, antara dingin yang membekukan dan hangatnya kegembiraan.
Di sinilah musim dingin Harbin dimulai. Bukan dengan sunyi, melainkan dengan riuh tawa dan deru dayung di atas es. ***





