Jepang Manjakan Wisatawan Asing dengan Program Babysitting, Seperti Apa?

Wisatawan Asing
Mai, kereta panoramik yang dioperasikan oleh Eizan Electric Railway Co., melewati tampilan daun musim gugur yang berwarna-warni di Sakoyo Ward Kyoto, Jepang pada bulan Desember. (Foto: Asahi.com/Yoshiaki Arai)

TURISIAN.com – Jepang menemukan cara baru memanjakan wisatawan asing. Bukan lewat kuil berusia ratusan tahun, sushi mahal, atau guguran sakura yang romantis.

Melainkan melalui layanan babysitting bagi turis yang membawa anak kecil.

Sebuah ceruk baru yang tumbuh seiring melonjaknya wisata keluarga ke Negeri Matahari Terbit sepanjang 2024 hingga 2026.

Laporan The Straits Times mencatat meningkatnya jumlah keluarga mancanegara yang menjadikan Jepang sebagai tujuan liburan.

Namun, kenyataan di lapangan tak selalu ramah bagi balita. Banyak restoran omakase, museum seni, hingga destinasi wisata tertentu menerapkan batas usia. Atau menuntut suasana hening. Anak kecil kerap dianggap gangguan.

Di celah itulah layanan babysitting hadir. Berbeda dengan penitipan anak lokal, layanan ini dirancang fleksibel untuk turis asing.

Seperti  staf berbahasa asing, pemesanan daring sebelum keberangkatan, hingga layanan jemput di hotel.

Orang tua bisa tetap menikmati Jepang tanpa harus mengorbankan agenda liburan.

Sejak 2025, sejumlah perusahaan mulai serius menggarap pasar ini. Salah satunya Synk Inc., perusahaan babysitting berbasis di Kamakura, Prefektur Kanagawa.

Fokus mereka jelas yakni melayani wisatawan internasional, terutama penutur bahasa Inggris. Komunikasi menjadi kunci kepercayaan.

BACA JUGA: Mini Museum Gerbong KRL, “Arigato” untuk Kereta Jepang yang Pamit

Berjalan Santai

Synk telah menangani puluhan permintaan sejak berdiri. Mulai dari menjaga anak selama beberapa jam di hotel hingga menemani mereka berjalan santai di alam terbuka.

Anak-anak diajak beraktivitas—bermain di taman lokal, membuat kerajinan tangan, atau mengenal budaya Jepang secara ringan. Orang tua pun bisa beranjak sejenak dari peran pengasuh.

Permintaan datang dari keluarga yang ingin menjelajah tanpa hambatan. Babysitting di hotel saat orang tua menikmati makan malam di restoran eksklusif.

Penitipan sementara ketika mengikuti tur dewasa, hingga pengasuhan sambil anak belajar seni dan budaya Jepang.

Perusahaan lain seperti Poppins Corp. ikut merekrut babysitter yang fasih berbahasa asing.

Sejumlah hotel besar, termasuk Nagoya Marriott Associa Hotel, bahkan menyediakan sistem pemesanan babysitter secara daring sebelum tamu tiba di Jepang.

Data pemerintah Jepang menunjukkan jutaan wisatawan asing masuk setiap tahun, termasuk puluhan ribu anak berusia di bawah empat tahun.

Angka itu menjelaskan mengapa babysitting kini bukan sekadar layanan tambahan, melainkan kebutuhan.

Layanan ini bukan hanya memudahkan orang tua menikmati restoran mewah atau galeri seni, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

Sementara itu, wisatawan yang merasa lebih leluasa cenderung tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang—di restoran, toko, dan atraksi wisata.

Global Nation menuliskan kisah sebuah keluarga asal California. Saat berlibur di Tokyo, mereka menitipkan dua anaknya—usia lima dan dua tahun—selama empat jam.

Orang tuanya akhirnya bisa menikmati omakase yang lama mereka impikan. Keesokan harinya, anak-anak pulang dengan hasil kerajinan tangan. Mereka terhibur. Orang tua pun tenang.

Tren ini diperkirakan terus tumbuh. Jepang tak hanya menawarkan babysitter. Tapi juga peluang paket wisata keluarga terintegrasi, hotel ramah anak, hingga aplikasi pemesanan babysitter lintas negara.

Pelan tapi pasti, Jepang bergerak menjauh dari citra destinasi eksklusif bagi pasangan dan pelancong solo.

Negeri itu kini membuka pintu lebih lebar bagi keluarga dengan anak kecil. Tanpa harus meminta orang tua mengorbankan pengalaman liburannya. ***

Pos terkait