TURISIAN.com – Kenaikan harga tiket Museum Nasional Indonesia sejak awal 2026 mengundang perhatian publik.
Tarif masuk bagi pengunjung dewasa yang semula Rp25.000 kini dipatok dua kali lipat menjadi Rp50.000.
Kebijakan itu bukan tanpa alasan. Di balik angka yang berubah, pengelola museum tengah mengejar satu tujuan lama: merawat warisan sejarah agar tetap bertahan lintas zaman.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, menjelaskan bahwa penyesuaian tarif dilakukan demi memastikan koleksi Museum Nasional Indonesia dirawat sesuai standar internasional.
Museum, kata Indira, tidak sekadar ruang pamer, melainkan institusi yang memikul tanggung jawab besar. Yakni, menjaga tinggalan arkeologi, sejarah, etnografi, hingga numismatika Indonesia.
“Penyesuaian tarif dilakukan agar Museum Nasional Indonesia dan koleksinya dapat terus dirawat sesuai standar pemeliharaan internasional. Serta tetap menjadi ruang yang nyaman dan bermakna bagi masyarakat,” ujar Indira saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin 5 Januari 2025.
Sebagaimana museum-museum besar lainnya, Museum Nasional Indonesia tidak hanya bergantung pada anggaran negara.
Dana filantropi dan kontribusi pengunjung melalui tiket masuk menjadi penopang penting untuk perawatan koleksi dan peningkatan layanan publik.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan sebagai penanggung jawab institusi Museum Cagar Budaya memutuskan menaikkan tarif masuk museum mulai 2026.
Meski demikian, kebijakan itu tidak diberlakukan secara seragam. Tarif khusus tetap diberikan kepada penyandang disabilitas.
Termasuk, warga lanjut usia di atas 60 tahun, serta pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan KIP Kuliah. Sebuah upaya menjaga akses museum tetap inklusif.
Tambahan dana dari tiket masuk juga datang pada momentum yang krusial.
Sementara itu Museum Nasional Indonesia baru saja menerima kepulangan fosil-fosil koleksi Eugene Dubois dari Belanda.
Termasuk, temuan penting yang selama ini dikenal sebagai “Java Man”.
BACA JUGA: Mini Museum Gerbong KRL, “Arigato” untuk Kereta Jepang yang Pamit
Sisi Konservasi
Kepulangan koleksi itu menuntut kesiapan ekstra, baik dari sisi konservasi maupun penyajian pengetahuan.
Pengelola museum merencanakan pameran khusus pada semester pertama 2026 untuk memperkenalkan fosil-fosil tersebut kepada publik.
Pameran itu akan dikemas secara imersif, memanfaatkan teknologi interaktif agar pengunjung tidak sekadar melihat. Tetapi juga mengalami proses belajar yang lebih mendalam.
Dalam jangka panjang, Museum Nasional Indonesia juga masih menghadapi pekerjaan rumah besar: renovasi enam ruang pamer yang terdampak kebakaran pada 2023.
Perbaikan akan dilakukan secara bertahap dengan dukungan pemerintah, sektor swasta, dan partisipasi publik.
Di luar ruang pamer, museum tetap membuka diri sebagai ruang publik. Taman, masjid, kantin, hingga aula disediakan sebagai fasilitas penunjang.
Kenaikan tiket Museum Nasional Indonesia, pada akhirnya, bukan sekadar soal angka di loket masuk.
Melainkan pertaruhan agar museum tetap hidup sebagai pusat pengetahuan, riset, dan edukasi bagi generasi mendatang. ***





